The Fed Potong Suku Bunga, Tapi Masih Bikin Pasar Bingung
The Federal Reserve diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persen dalam rapat pekan ini. Namun, Ketua Fed Jerome Powell kemungkinan besar tidak akan kasih petunjuk jelas soal langkah berikutnya. Powell sebelumnya bilang fokus The Fed sekarang adalah risiko pelemahan pasar tenaga kerja. Data inflasi AS terbaru juga keluar lebih rendah dari perkiraan, jadi tekanan dari kubu “hawkish” yang takut inflasi melonjak sementara agak mereda.
Sikap hati-hati ini muncul karena kondisi internal Fed sendiri lagi pecah dua. Sebagian pejabat merasa ekonomi mulai rapuh, terutama di pasar kerja, jadi suku bunga harus diturunkan supaya nggak bikin job market rusak. Tapi sebagian lain masih khawatir inflasi belum aman. Inflasi inti (core CPI) masih naik 3% secara tahunan — itu masih 1 poin di atas target The Fed. Mereka juga waspada karena harga jasa masih ngeyel tinggi, dan ada ancaman tarif baru terhadap China dan Kanada yang bisa bikin harga makin naik.
Karena pandangan pejabat Fed kebagi dua, Powell kemungkinan akan main aman saat konferensi pers. Dia bakal umumkan keputusan suku bunga (yang dirilis Rabu jam 2 siang waktu Washington), tapi diprediksi nggak bakal janji apa-apa soal rapat Desember atau awal tahun depan. Fed juga tidak akan merilis proyeksi ekonomi baru atau dot plot di pertemuan ini. Apalagi data ekonomi resmi lagi terbatas gara-gara shutdown pemerintah, jadi Powell punya alasan ekstra buat “no comment” ke arah kebijakan selanjutnya.
Uniknya, bahkan soal besaran pemangkasan pun masih ada pertarungan. Investor hampir yakin pemangkasan hanya 0,25 poin, tapi ada pejabat seperti Gubernur Fed Stephen Miran (pilihan Presiden Donald Trump) yang disebut bakal ngotot minta pemotongan lebih agresif: 0,50 poin. Di sisi lain, ada juga suara yang maunya jangan dipotong lagi sama sekali, seperti Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid. Artinya, Fed memang mau nurunin bunga, tapi belum sepakat mau seberapa cepat arah longgarnya. Itu sebabnya Powell diperkirakan bakal ngomong halus, panjang, tapi nggak jawab pertanyaan paling penting: “Setelah ini, kita ke mana?”
Sumber: Bloomberg