Pasar Yakin 95 Persen The Fed Akan Pangkas Suku Bunga, Namun Ekonom Masih Terbelah
Tekanan ekonomi akibat shutdown pemerintahan Amerika Serikat, perlambatan inflasi, dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan kini mendorong ekspektasi kuat bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan data terbaru dari CME FedWatch Tool, peluang pasar terhadap pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) mencapai 95 persen, menjadikannya probabilitas tertinggi sepanjang tahun ini. Angka tersebut mencerminkan keyakinan investor bahwa The Fed tak punya banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian fiskal akibat shutdown yang telah berlangsung lebih dari dua pekan.
“Pasar telah ‘mengunci’ ekspektasi pemangkasan setidaknya 25 bps pada pertemuan mendatang. Shutdown yang berlarut-larut menjadi katalis tambahan yang memperkuat pandangan dovish terhadap kebijakan moneter,” kata analis suku bunga dari CME Group.
Survei Ekonom Menunjukkan Pandangan Lebih Hati-Hati
Meski pasar menunjukkan keyakinan hampir penuh, para ekonom justru bersikap lebih konservatif.
Dalam survei yang dilakukan Reuters terhadap 110 ekonom pada Agustus lalu, sekitar 61 persen responden memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September 2025, sedangkan sisanya memperkirakan Fed akan menahan suku bunga lebih lama hingga inflasi benar-benar stabil di bawah target 2 persen.
Lembaga keuangan besar seperti Morgan Stanley juga memperingatkan bahwa pasar mungkin terlalu optimistis. Mereka menilai peluang pemangkasan hanya sekitar 50 persen, mengingat data ekonomi yang masih solid di sektor tenaga kerja dan konsumsi rumah tangga.
“Pasar sedang bereaksi terhadap faktor politik dan risiko jangka pendek. Namun secara fundamental, perekonomian AS belum menunjukkan tanda resesi yang cukup dalam untuk memaksa pemangkasan agresif,” ujar analis Morgan Stanley dalam laporan riset terbarunya.
Bank-Bank Besar Turut Revisi Proyeksi
Beberapa lembaga keuangan besar mulai menyesuaikan perkiraannya seiring meningkatnya tekanan pasar:
JPMorgan memproyeksikan peluang 95 persen untuk terjadinya pemangkasan dalam waktu dekat, dengan 87,5 persen kemungkinan penurunan sebesar 25 bps.
Goldman Sachs memandang skenario pemangkasan lebih “awal dari ekspektasi” dapat terjadi jika data inflasi bulan Oktober melemah lebih cepat dari perkiraan.
Bank of America memperkirakan total pemangkasan suku bunga sepanjang 2026 bisa mencapai 75–100 bps, terutama jika pertumbuhan ekonomi mulai melambat di bawah 1,5 persen.
Shutdown Pemerintah Percepat Tekanan pada Fed
Shutdown pemerintahan AS yang telah memasuki minggu ketiga ikut memperumit situasi. Banyak data ekonomi — termasuk laporan ketenagakerjaan dan pengeluaran pemerintah — tertunda karena kegiatan administrasi dihentikan sementara.
Kondisi ini membuat The Fed kehilangan sebagian indikator penting untuk menilai kondisi ekonomi terkini, meningkatkan ketidakpastian menjelang pertemuan kebijakan berikutnya.
“The Fed kini menghadapi dilema: apakah menunggu data ekonomi yang tertunda, atau bertindak cepat untuk menenangkan pasar,” tulis Business Insider dalam analisanya.
Beberapa pejabat Fed sebelumnya menegaskan bahwa keputusan kebijakan moneter akan tetap bergantung pada data ekonomi yang masuk (data-dependent). Namun, dengan gangguan akibat shutdown dan risiko keuangan yang meningkat, tekanan publik agar Fed segera menurunkan suku bunga semakin kuat.
Kesimpulan: Dovish Sentiment Menguat
Dengan probabilitas pasar mencapai hampir 95 persen, ekspektasi terhadap pelonggaran moneter kian menguat.
Namun di sisi lain, para ekonom dan lembaga riset besar masih membagi pandangan antara langkah berhati-hati dan kebutuhan akan respons cepat terhadap situasi politik dan fiskal yang menekan.
Jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga pada pertemuan mendatang, langkah ini akan menjadi pemangkasan pertama sejak awal 2024, sekaligus sinyal kuat bahwa era kebijakan moneter ketat mulai mereda.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id