Fed Siap Pangkas? Ini Efeknya ke Emas, Perak, Minyak & Dolar
Menjelang keputusan FOMC (Rabu–Kamis WIB), pasar menilai pemangkasan 25 bps sebagai skenario paling mungkin. Fokus utama akan tertuju pada dot plot dan nada Jerome Powell soal laju pelonggaran berikutnya, karena itu yang berpotensi “menggerakkan” pasar setelah pemotongan pertama. Ekspektasi dovish ini sudah terasa di aset global sejak awal pekan.
DXY (indeks dolar) cenderung tertekan bila The Fed memberi sinyal pelonggaran berlanjut (rate differentials menyempit). Jika The Fed memotong 25 bps dengan nada dovish—atau bahkan 50 bps—tekanan ke dolar bisa bertambah; sebaliknya, nada hati-hati/terbatas bisa memicu pantulan jangka pendek di DXY. Konsensus terbaru pun menilai prospek dolar melemah dalam beberapa bulan bila pasar menimbang berapa banyak pemangkasan berikutnya.
Untuk emas & perak, USD yang lebih lemah dan imbal hasil lebih rendah biasanya mendukung kenaikan. Jelang keputusan, emas sempat terkoreksi tipis karena profit taking meski masih dekat rekor; tapi ekspektasi pemangkasan tetap jadi penopang utama. Perak juga diuntungkan bias dovish The Fed serta dukungan fundamental (defisit struktural dan permintaan industri/elektronik), walau posisi overbought membuka ruang pullback teknikal jangka pendek.
Pada minyak, dolar yang lebih lemah umumnya positif karena minyak dihargakan dalam USD—membuatnya relatif “lebih murah” bagi pembeli non-dolar. Namun efeknya sering kali moderat dan bisa tertutup faktor pasokan/geopolitik; awal pekan ini harga minyak juga cenderung stabil di tengah sorotan sanksi & suplai. Singkatnya: dovish Fed → bias sedikit suportif untuk oil, tetapi tidak berdiri sendiri.
Dampak ringkas:
DXY: cenderung melemah jika sinyal pelonggaran berlanjut; hawkish tone bisa memantulkan.
Emas: koreksi jangka pendek wajar, tapi bias tetap bullish jika Fed dovish.
Perak: disokong ekspektasi dovish + permintaan industri; waspadai overbought.
Minyak: dolar lemah → bias positif, tapi sensitif suplai/geopolitik.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id