Penutupan Pemerintah AS Memasuki Minggu Keempat, Ribuan Pegawai Terpaksa Berhenti
Pemerintah Amerika Serikat secara resmi memasuki minggu ketiga penutupan pemerintahan, setelah Kongres gagal menyetujui anggaran tahun fiskal 2026. Sekitar 900.000 pegawai federal kini dirumahkan, sementara ribuan lainnya tetap bekerja tanpa gaji di lembaga-lembaga penting.
Penutupan pemerintahan ini telah menutup sejumlah layanan publik non-esensial, termasuk museum Smithsonian, lembaga penelitian, dan program bantuan sosial yang bergantung pada dana federal. Kontrak dan proyek publik juga tertunda, memberikan tekanan tambahan pada kontraktor swasta dan pemerintah daerah.
Sejauh ini, Senat AS telah mencoba 11 kali untuk meloloskan RUU pendanaan sementara, tetapi setiap kali gagal mencapai ambang batas 60 suara yang disyaratkan. Presiden Trump telah menegaskan bahwa ia tidak akan bertemu dengan para pemimpin Demokrat sampai pemerintah dibuka kembali, memperpanjang kebuntuan politik.
Sebagai langkah darurat, Departemen Pertahanan menggunakan dana internal untuk melanjutkan pembayaran gaji personel militer, sementara pengadilan federal mulai merumahkan pegawai karena dana yang tidak dialokasikan habis. Bahkan, Badan Keamanan Nuklir Nasional (NNSA) telah merumahkan sekitar 80% tenaga kerjanya karena kekurangan dana.
Penghentian operasional pemerintah mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar US$15 miliar per minggu. Program jaring pengaman sosial seperti SNAP (bantuan pangan) berisiko kehabisan dana untuk bulan November, yang berdampak pada puluhan juta warga Amerika.
Pegawai federal yang dirumahkan menghadapi tekanan keuangan, mulai dari kehilangan upah hingga risiko terganggunya tunjangan kesehatan dan pembayaran hipotek. Pasar global merespons, dengan peningkatan volatilitas dolar AS, saham, dan komoditas, termasuk emas dan minyak.
Belum ada tanda-tanda akan berakhirnya penghentian operasional pemerintah dalam beberapa hari mendatang. Para pakar politik memperingatkan bahwa semakin lama kebuntuan ini berlanjut, semakin besar tekanan pada ekonomi dan stabilitas sosial AS. Investor global memantau perkembangan ini dengan saksama untuk mengantisipasi dampaknya terhadap pasar keuangan dan perdagangan internasional. (mrv)
Sumber: Newsmaker.id