Shutdown AS Memasuki Hari ke-16, Hakim Blokir Pemecatan Massal Pegawai Federal
Krisis pemerintahan Amerika Serikat terus berlanjut tanpa tanda-tanda penyelesaian setelah shutdown federal memasuki hari ke-16. Perseteruan politik antara Gedung Putih dan Kongres kini berujung pada langkah hukum, di mana seorang hakim federal memblokir rencana pemerintahan Trump untuk memecat ribuan pegawai federal di tengah kebuntuan anggaran.
Hakim Susan Illston dari Pengadilan Distrik Federal di San Francisco mengeluarkan perintah sementara yang menghentikan pemecatan lebih dari 4.100 pegawai yang telah dijadwalkan dalam beberapa hari terakhir. Dalam putusannya, Illston menyatakan bahwa keputusan pemecatan tersebut “berpotensi melanggar batas kewenangan eksekutif dan bermotif politik.”
“Langkah pemecatan massal di tengah shutdown tanpa prosedur administratif yang jelas menunjukkan kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan,” ujar Illston dalam dokumen pengadilan yang dirilis Rabu malam (15/10).
Kebuntuan Politik di Kongres
Upaya untuk mengakhiri kebuntuan masih menemui jalan buntu. Senat AS gagal lagi—untuk kesembilan kalinya— meloloskan rancangan undang-undang pendanaan sementara (continuing resolution) yang diajukan oleh DPR.
Partai Demokrat tetap menolak mendukung rancangan tersebut tanpa adanya jaminan perpanjangan subsidi kesehatan dalam kerangka Affordable Care Act (ACA), sementara kubu Republik menegaskan bahwa tuntutan itu harus dibahas terpisah dari isu pendanaan pemerintah.
Pemimpin DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, mengatakan bahwa “shutdown hanya akan berakhir jika Demokrat berhenti menjadikan subsidi kesehatan sebagai alat tawar politik.” Sebaliknya, pemimpin Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menyebut kebijakan Gedung Putih sebagai “taktik tekanan terhadap rakyat sendiri.”
Dampak Meluas ke Berbagai Sektor
Shutdown yang dimulai pada 1 Oktober ini telah berdampak besar terhadap perekonomian nasional dan layanan publik.
Menurut estimasi terbaru dari Departemen Keuangan AS, kerugian ekonomi akibat penghentian aktivitas pemerintah bisa mencapai US$15 miliar per minggu jika kebuntuan terus berlanjut.
Lebih dari 750.000 pegawai federal terdampak cuti tanpa gaji (furlough), sementara ribuan lainnya bekerja tanpa bayaran di sektor penting seperti keamanan nasional, pengendalian lalu lintas udara, dan layanan bandara.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius di sektor penerbangan setelah meningkatnya laporan pegawai TSA dan pengatur lalu lintas udara yang absen bekerja akibat kelelahan dan tekanan finansial.
Beberapa lembaga publik seperti Smithsonian Institution dan Kebun Binatang Nasional di Washington D.C. juga terpaksa ditutup karena kehabisan dana operasional. Di sektor properti, penundaan pada Program Asuransi Banjir Nasional (NFIP) telah memperlambat transaksi di area rawan banjir.
Gedung Putih Tetap Keras
Meski tekanan publik meningkat, Gedung Putih menegaskan tidak akan mengubah sikapnya. Presiden Donald Trump menyebut bahwa kebijakan pemangkasan pegawai dan penutupan sementara lembaga pemerintah adalah “langkah perlu untuk menekan pemborosan birokrasi.”
Sementara itu, Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) yang dipimpin Russ Vought dikabarkan tengah menyiapkan daftar lembaga yang akan tetap beroperasi menggunakan dana cadangan internal. Langkah ini menuai kritik karena dianggap “memilih-milih” lembaga berdasarkan pertimbangan politik, bukan prioritas publik.
Potensi Jadi Shutdown Terpanjang dalam Sejarah
Dengan belum adanya kesepakatan di Capitol Hill, banyak pengamat memperkirakan shutdown ini berpotensi menjadi yang terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, melampaui rekor 35 hari pada 2018–2019.
Para ekonom memperingatkan, semakin lama shutdown berlangsung, semakin besar risiko terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal keempat, serta meningkatnya tekanan terhadap pasar tenaga kerja dan konsumsi domestik.
“Jika kebuntuan ini berlanjut lebih dari sebulan, dampaknya bisa meluas hingga ke data inflasi dan pertumbuhan PDB,” kata analis ekonomi dari Bank of America.
Kesimpulan
Krisis shutdown AS kini bukan sekadar perdebatan anggaran, tetapi telah menjelma menjadi ujian kekuatan politik antara Gedung Putih, Kongres, dan lembaga peradilan.
Dengan pemecatan massal yang kini dibekukan sementara oleh pengadilan, sorotan publik semakin tajam terhadap arah kebijakan Trump dan kemampuan Kongres mencari solusi kompromi.
Selama kebuntuan ini belum berakhir, jutaan warga Amerika tetap berada dalam ketidakpastian ekonomi dan sosial.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id