PPI Meledak, Pasar Kocar-kacir
Dari kalender AS, inflasi produsen (PPI) Juli melonjak 0,9% m/m, kenaikan terbesar dalam tiga tahun, sementara klaim pengangguran awal turun ke 224 ribu. Kombinasi ini menekan harapan pemangkasan suku bunga jumbo The Fed, meski pasar masih melihat peluang pemangkasan yang lebih kecil. Pergerakan berikutnya akan dipandu oleh Retail Sales dan ekspektasi inflasi konsumen U. Michigan yang rilis Jumat ini.
Sorotan geopolitik tertuju ke KTT Trump–Putin di Alaska (mulai pukul 11.00 waktu Alaska). Trump disebut ingin menekan gencatan senjata di Ukraina dan membuka peluang pertemuan kedua dengan melibatkan Zelenskiy, sementara Moskow juga menempatkan pengendalian senjata nuklir di meja perundingan. Media dan pejabat memberi sinyal ekspektasi hasil yang hati-hati, tanpa jaminan penandatanganan dokumen.
Di front tarif/Perang dagang, lonjakan PPI dipandang sebagai tanda tarif yang lebih tinggi mulai merembes ke inflasi, memperkuat argumen The Fed untuk berhati-hati. Di sisi energi, wacana sanksi sekunder bagi pembeli minyak Rusia—jika pembicaraan damai tak maju—menjadi risiko baru bagi arus pasokan, meski realisasi pelonggaran/pengetatan sanksi tetap bergantung politik dan waktu.
Dampak ke pasar: sentimen global sempat goyah-yields AS naik dan DXY menguat usai PPI, lalu mereda saat pasar kembali menilai peluang cut 25 bps September. Emas melemah (spot sempat ke $3.337), perak turun sekitar 1% harian pada Kamis, sementara minyak sempat naik ~2% jelang KTT lalu turun pada Jumat; untuk pekan ini WTI diproyeksikan -0,7% dan Brent +0,4%. IEA menilai pasar minyak kian “bloated” pasca kenaikan produksi OPEC+, menambah tekanan pada prospek harga.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id