Tarif ‘Resiprokal’ Trump Resmi Berlaku, Menarget Banyak Mitra Dagang AS
Tarif “resiprokal” (Tarif timbal balik) yang dicanangkan oleh Presiden AS Donald Trump mulai berlaku pada hari Kamis (7/8), dengan memberlakukan bea masuk yang lebih tinggi terhadap ekspor dari sejumlah negara mitra dagang AS.
“TENGAH MALAM INI!!! MILIARAN DOLAR DALAM BENTUK TARIF SEKARANG MENGALIR KE AMERIKA SERIKAT!” tulis Trump melalui platform media sosial Truth Social.
Sebelumnya dalam sebuah unggahan, Trump menyebut tarif tersebut ditujukan kepada “NEGARA-NEGARA YANG TELAH MEMANFAATKAN AMERIKA SERIKAT SELAMA BERTAHUN-TAHUN.”
Secara terpisah, Brasil dan India kini menghadapi tarif sebesar 50%. Untuk Brasil, tarif sudah diberlakukan; sementara India untuk sementara berada di tarif 25%, yang akan naik menjadi 50% akhir bulan ini sesuai perintah eksekutif yang ditandatangani pada hari Rabu. Trump mengatakan tarif terhadap India berkaitan dengan pembelian minyak Rusia oleh negara tersebut.
Sementara itu, negara dan kawasan lain telah berhasil menegosiasikan kesepakatan dagang dengan AS. Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan kini dikenakan tarif sebesar 15%, sedangkan Inggris berhasil menegosiasikan tarif sebesar 10%. Namun beberapa negara lain, termasuk China dan Meksiko, masih berada di posisi yang belum ditentukan: data menunjukkan tarif untuk Meksiko ditangguhkan untuk sementara, sementara Negeri Tirai Bambu saat ini berada dalam semacam gencatan dagang dengan AS.
“Semuanya belum selesai”
Pengumuman tarif baru Trump—termasuk peningkatan tarif terhadap India dan ancaman tarif 100% pada chip—memperlihatkan bahwa “permainannya belum selesai,” ujar Bill Papadakis, pakar makro dari Lombard Odier. Meskipun beberapa kesepakatan telah diklaim tercapai dan sejumlah ancaman telah ditarik mundur, Papadakis memperingatkan agar tidak terlalu optimis mengingat dampak tarif terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi masih belum jelas.
Beat Wittmann, ketua dan partner di firma Porta Advisors (berbasis di Zurich), menilai bahwa kenaikan tarif tajam seperti yang menimpa India dan Swiss bukanlah hal yang mengejutkan. “Lihat saja bagaimana Trump memperlakukan negara tetangga seperti Kanada, lalu bayangkan bagaimana perlakuan terhadap yang lainnya. Selamat datang di dunia baru ini,” katanya.
Wittmann menekankan strategi adaptabilitas jangka pendek bagi negara-negara yang terkena dampak, sembari mendorong penguatan struktural agar menjadi lebih mandiri di masa depan.(yds)
Sumber: CNBC