IAEA: Waktu Iran Menipis, Jendela Diplomasi Hampir Tertutup
Peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di Timur Tengah berisiko mempersempit ruang Iran untuk meraih kesepakatan diplomatik terkait aktivitas nuklirnya, menurut Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Mariano Grossi. Ia menilai waktu untuk memastikan jalur diplomasi tetap terbuka semakin terbatas seiring eskalasi ketegangan di kawasan.
Grossi mengatakan IAEA telah membahas proposal konkret bersama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk memeriksa sejumlah lokasi yang disebut menjadi sasaran serangan tahun lalu, termasuk fasilitas yang terdampak di Fordow, Isfahan, dan Natanz. Namun, apakah rencana inspeksi itu bisa diselesaikan dengan cepat masih menjadi pertanyaan terbuka.
Menurut Grossi, inspektur IAEA belum dapat memverifikasi kondisi persediaan uranium Iran yang mendekati level sensitif, maupun menilai secara menyeluruh tingkat kerusakan fasilitas pengayaan dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini membuat verifikasi menjadi isu krusial karena, tanpa pemeriksaan lapangan, penilaian independen terhadap status program nuklir akan sulit dipastikan.
Grossi juga menyebut dirinya bertemu dengan utusan Presiden AS Donald Trump di Jenewa, di tengah narasi Washington yang menegaskan serangan tahun lalu “menghancurkan” kemampuan nuklir Iran, namun tetap membuka ancaman tindakan lanjutan bila tidak ada kesepakatan baru. Ia menekankan, kembalinya IAEA ke fasilitas yang rusak pada akhirnya sangat bergantung pada tercapainya kesepakatan yang lebih luas antara pihak-pihak terkait.
Di sisi diplomasi, Iran dan AS sama-sama menyampaikan optimisme yang berhati-hati setelah pertemuan di Jenewa, dengan Iran menyebut telah ada “kesepahaman umum” soal prinsip pembatasan nuklir sebagai imbalan pencabutan sanksi, dan kedua pihak sepakat menyiapkan proposal sebelum pertemuan lanjutan. Namun, di saat bersamaan, AS terus menambah aset militernya di kawasan, sementara Iran melakukan latihan bersama yang sempat mengganggu arus di sekitar Selat Hormuz, titik vital ekspor energi global.
Inti kebuntuan tetap berada pada isu pengayaan uranium: Israel dan AS mendorong penghentian total aktivitas pengayaan, sementara Iran bersikeras mempertahankan sebagian kapasitas untuk tujuan damai. Grossi menegaskan, tidak akan ada kesepakatan yang kredibel tanpa kemampuan IAEA melakukan verifikasi yang kuat, sehingga upaya “menjembatani garis merah” kedua kubu menjadi kunci agar jalur diplomasi tidak benar-benar tertutup.(alg)
Sumber: Newsmaker.id