Perintah Baru Trump Soal AI: Emas, Dolar, dan Minyak Ikut Goyang?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja menandatangani sebuah executive order baru yang mengatur kecerdasan buatan (AI) di tingkat nasional. Perintah ini berjudul “Ensuring a National Policy Framework for Artificial Intelligence” dan isinya pada dasarnya ingin menghambat negara bagian membuat aturan AI versi mereka sendiri. Trump menilai, terlalu banyak aturan berbeda di tiap negara bagian bisa bikin perusahaan teknologi bingung dan akhirnya menghambat investasi serta inovasi AI di Amerika.
Dalam executive order tersebut, Trump memerintahkan Jaksa Agung untuk membentuk “AI Litigation Task Force”, yaitu tim khusus yang tugasnya menggugat aturan-aturan AI di tingkat negara bagian yang dianggap “menghambat” kebijakan nasional. Selain itu, Departemen Perdagangan diminta membuat daftar hukum negara bagian yang dinilai terlalu memberatkan, dan negara bagian yang ngeyel berisiko kehilangan akses ke sebagian dana hibah federal, terutama yang terkait proyek broadband dan teknologi.
Kebijakan ini disambut positif oleh banyak perusahaan teknologi besar di Silicon Valley, yang sejak lama minta ada satu standar nasional agar mereka tidak harus mengikuti puluhan aturan berbeda di seluruh AS. Namun, di sisi lain, sejumlah gubernur negara bagian—baik dari Partai Republik maupun Demokrat—serta kelompok pemerhati hak sipil mengkritik perintah ini. Mereka menilai langkah Trump terlalu berpihak ke Big Tech dan bisa melemahkan perlindungan konsumen, privasi, hingga aturan anti-diskriminasi yang sedang dibangun di beberapa negara bagian seperti California dan Colorado.
Secara politik, Trump membingkai kebijakan ini sebagai bagian dari “perlombaan AI” melawan China. Ia berkali-kali menegaskan bahwa Amerika harus jadi pemenang utama dalam teknologi AI, dan itu hanya mungkin kalau regulasi di dalam negeri dibuat “seringan mungkin” bagi pelaku industri. Kritikus mengingatkan bahwa fokus hanya pada kecepatan inovasi tanpa pengawasan yang cukup bisa menimbulkan risiko baru: dari penyalahgunaan data, manipulasi politik lewat deepfake, sampai potensi dampak sosial yang lebih luas.
Buat pasar keuangan, dampaknya lebih ke sentimen jangka pendek. Langkah deregulasi ini cenderung dianggap positif untuk saham teknologi dan sentimen risk-on. Dalam kondisi seperti itu, biasanya: dolar AS berpotensi sedikit menguat karena aliran modal ke aset berisiko di AS; emas dan perak bisa kehilangan sebagian daya tarik sebagai aset safe haven sehingga rawan koreksi jangka pendek, meski tren besarnya tetap ditentukan suku bunga dan geopolitik; sementara harga minyak lebih dipengaruhi faktor lain seperti OPEC, permintaan global, dan isu geopolitik, sehingga efek langsung dari kebijakan AI ini ke oil relatif terbatas dan hanya muncul lewat sentimen pasar secara umum.(asd)
Sumber: Newsmaker.id