Trump Ngotot Tarif Itu ‘Pintar’ dan Turunkan Harga?
Presiden Donald Trump kembali membela kebijakan tarif impor yang ia terapkan, di tengah kekhawatiran warga soal tingginya biaya hidup. Dalam kampanye bergaya rapat umum di Mount Pocono, Pennsylvania, Trump mengakui bahwa ia “banyak diserang” karena tarif yang luas terhadap barang impor. Lawan politiknya menuduh tarif justru membuat harga barang naik dan mendorong inflasi, tapi Trump menegaskan bahwa menurutnya publik “mulai paham” manfaat tarif tersebut.
Trump berargumentasi bahwa tarif telah ia gunakan untuk memberi bantuan ke petani dan memaksa produsen membangun pabrik serta pusat data di Amerika Serikat. Ia menyebut hanya “orang-orang pintar” yang sejak awal mengerti logika tarif, sementara yang lain baru mulai mengerti sekarang. Di saat yang sama, timnya mengakui mereka perlu memperbaiki cara menyampaikan pesan ekonomi, karena sentimen pemilih terhadap kondisi ekonomi masih menjadi titik lemah bagi Trump dan Partai Republik.
Hasil pemilu bulan lalu yang diwarnai kekalahan Partai Republik di beberapa daerah penting menambah tekanan tersebut. Isu kenaikan biaya hidup dan mahalnya kebutuhan sehari-hari banyak muncul dalam kampanye lawan. Padahal, Trump dulu bisa kembali berkuasa dengan memanfaatkan kekecewaan publik terhadap inflasi dan lemahnya pertumbuhan lapangan kerja di era Joe Biden. Kini, ia berisiko menghadapi angin ekonomi yang sama: sentimen konsumen masih lemah, penilaian terhadap kondisi keuangan pribadi terendah sejak 2009, pengangguran naik, dan laporan ADP menunjukkan pemutusan hubungan kerja terbesar sejak awal 2023.
Untuk meredakan kekhawatiran itu, Trump dan para sekutunya mencoba mengarahkan kebijakan. Mereka menyiapkan pengecualian baru tarif untuk sektor pertanian, menambah bantuan ke petani, dan menyelidiki industri pengemasan daging. Trump juga mendorong pelonggaran standar efisiensi bahan bakar untuk menekan harga mobil, serta berupaya menurunkan biaya obat resep. Namun, sejauh ini upaya tersebut belum terlalu “terbaca” oleh pemilih, sementara Trump juga sibuk dengan agenda lain seperti pengetatan imigrasi, upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina, hingga proyek pribadi seperti rencana pembangunan ballroom baru di Gedung Putih.
Di sisi lain, masih ada kekhawatiran bahwa ancaman tarif baru justru bisa kembali mendorong harga naik. Partai Republik juga mendapat sorotan soal kemungkinan kenaikan biaya kesehatan jika subsidi dalam skema Affordable Care Act berakhir di akhir tahun. Meski demikian, Trump tetap menyerang lawan politiknya, menuduh Demokrat dan media menggemborkan isu harga sebagai “hoaks”, dan menyalahkan Biden atas lonjakan inflasi di masa lalu. Pertanyaannya: apakah narasi “tarif itu solusi” dan serangan ke Demokrat masih cukup kuat untuk meyakinkan pemilih, di saat Partai Republik kini justru memegang kendali pemerintahan?(asd)
Sumber: Newsmaker.id