Damai atau Cuma Dagang Mineral? Kesepakatan Trump di Kongo Dipertanyakan
Presiden Donald Trump mengumumkan pakta perdamaian baru antara Rwanda dan Republik Demokratik Kongo, yang dikaitkan dengan akses Amerika Serikat ke mineral penting. Dalam pertemuan di Washington, Trump mengklaim pemerintahannya telah “berhasil di mana banyak yang lain gagal” dan menyebut ini sebagai perang kedelapan yang ia akhiri dalam waktu kurang dari setahun. Namun di lapangan, kenyataannya jauh lebih rumit karena pertempuran di Kongo timur masih terus berlanjut meski perjanjian damai sebelumnya sudah ditandatangani.
Isi kesepakatan ini bukan hanya soal gencatan senjata, tetapi juga soal bisnis mineral. Perjanjian tersebut membuka akses bagi perusahaan-perusahaan AS ke cadangan tembaga dan kobalt di kawasan itu — bahan penting untuk membuat baterai ponsel dan kendaraan listrik. AS juga berinvestasi dalam proyek jalur kereta yang menghubungkan Samudra Atlantik hingga perbatasan Angola–Kongo untuk memperlancar aliran mineral. Langkah ini jelas bagian dari upaya AS bersaing dengan Tiongkok dalam perebutan mineral strategis dunia.
Meski di atas kertas terlihat menjanjikan, para analis memperingatkan bahwa menjalankan kesepakatan ini di wilayah yang sangat tidak stabil bukanlah hal mudah. Kelompok bersenjata M23 masih menguasai banyak wilayah di Kongo timur dan membangun “pemerintahan paralel” yang mengatur hampir semua hal, termasuk rantai pasokan mineral. Perundingan damai di Doha antara Kongo dan M23 belum menghasilkan kesepakatan soal pengembalian wilayah, pelucutan senjata, dan keadilan bagi korban. Selama kelompok bersenjata ini belum mau melepas kekuasaannya, perdamaian yang dijanjikan akan sulit tercapai.
Di tingkat elite politik, suasananya kontras. Presiden Rwanda Paul Kagame memuji Trump dan menyebut kesepakatan ini menyediakan semua yang dibutuhkan untuk mengakhiri konflik “selamanya”, sambil menegaskan bahwa jika gagal, salahnya bukan pada Trump tapi pada para pemimpin Afrika sendiri. Di sisi lain, pejabat Kongo menuduh Rwanda tidak sungguh-sungguh menginginkan perdamaian, sementara sebagian politisi oposisi di Kongo menilai presiden mereka hanya mengejar urusan bisnis dengan AS dan “mengejek mayat-mayat Kongo” dengan menandatangani kesepakatan ini.
Suara dari lapangan jauh lebih suram. Aktivis dan warga di Kongo timur mengatakan peluru masih beterbangan dan orang-orang tidak aman, dengan ratusan warga sipil tewas hanya dalam sebulan terakhir. Beberapa tokoh masyarakat dan peneliti khawatir perjanjian ini hanya akan menjadi “pengumuman di atas kertas” tanpa niat kuat untuk dijalankan dengan itikad baik. Bagi warga seperti Pathy Musa, jika Rwanda tidak menghormati perjanjian, konflik ini bisa berubah menjadi perang tak berkesudahan yang menelan lebih banyak korban. Di tengah klaim perdamaian dan janji investasi besar, masyarakat di Kongo timur masih bertanya-tanya: ini benar-benar demi damai, atau sekadar demi mineral? (az)
Sumber: Newsmaker.id