Kenapa Damai Ukraina Gagal?
Pertemuan selama lima jam antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantunya Jared Kushner, di Kremlin tidak menghasilkan kesepakatan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina. Kremlin mengonfirmasi bahwa kompromi belum tercapai dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Perundingan berlangsung hingga tengah malam, dan beberapa proposal dari AS dianggap tidak sesuai oleh Rusia.
Yuri Ushakov, ajudan utama Putin, mengatakan bahwa pertemuan ini konstruktif dan membuka peluang kerja sama ekonomi AS-Rusia, meski pertemuan langsung antara Putin dan Trump belum direncanakan. Diskusi juga menyentuh masalah teritorial, termasuk klaim Rusia atas Donbas, yang sebagian besar tetap di bawah kendali Ukraina. Ushakov menekankan beberapa rancangan proposal AS masih perlu dibahas lebih lanjut.
Trump sendiri menyebut situasi sangat sulit dan kacau, mengingat perang ini telah menimbulkan 25.000 hingga 30.000 korban per bulan. Ia menekankan bahwa mengakhiri konflik ini merupakan salah satu tujuan sulit dari kebijakan luar negerinya, meski sebelumnya kerap mengkritik Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.
Sejumlah negara Eropa menyatakan khawatir terhadap proposal perdamaian AS yang bocor sebelumnya karena dinilai terlalu menguntungkan Moskow. Ukraina dan AS kemudian mencoba menyusun kerangka kerja perdamaian yang lebih adil melalui perundingan di Jenewa. Presiden Zelenskiy menegaskan bahwa semua bergantung pada negosiasi di Moskow, dan penting agar prosesnya transparan tanpa ada permainan di belakang Ukraina.
Putin menegaskan Rusia tidak ingin perang dengan Eropa, tetapi mengancam akan menghentikan akses Ukraina ke laut jika terjadi serangan. Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menilai pernyataan Putin menunjukkan bahwa Rusia belum siap benar-benar mengakhiri konflik. Kondisi ini menegaskan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh ketidakpastian. (az)
Sumber: Newsmaker.id