Telepon Misterius Trump-Maduro: Ketegangan Memanas, Apa di Baliknya?
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa ia baru-baru ini berbicara dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Percakapan itu berlangsung di tengah tuduhan Caracas bahwa Washington sedang mempersiapkan serangan militer. Meski Trump menyebutnya sebagai “sekadar panggilan telepon,” pembicaraan itu memicu spekulasi besar, terutama karena AS telah meningkatkan tekanan terhadap Venezuela dalam beberapa bulan terakhir.
Washington menegaskan bahwa pengerahan kekuatan militernya di Karibia bertujuan menekan perdagangan narkoba. Namun Venezuela menilai langkah tersebut merupakan upaya untuk mengganti rezim. Laporan media AS menyebut Trump dan Maduro bahkan membahas kemungkinan pertemuan serta skenario amnesti jika Maduro mundur. Beberapa politisi AS mengklaim bahwa Venezuela diberikan opsi meninggalkan negara itu, termasuk kemungkinan menuju Rusia. Sementara itu, AS terus menuduh Maduro memimpin “Kartel Matahari,” meski Caracas dan sejumlah pakar membantah tuduhan tersebut.
Di sisi lain, Venezuela mengaku telah meminta bantuan OPEC untuk menghalangi apa yang mereka sebut sebagai “agresi AS.” Dalam surat yang dibacakan oleh Wakil Presiden Delcy Rodriguez, pemerintah Venezuela menuduh Washington mencoba merebut cadangan minyak negara tersebut yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Sejak September, serangan udara AS terhadap kapal yang diduga menyelundupkan narkoba telah menewaskan lebih dari 80 orang, namun legalitas operasi itu masih dipertanyakan.
Ketegangan semakin meningkat setelah laporan yang menyebut adanya perintah dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth untuk “menghabisi semua orang” dalam salah satu operasi militer. Trump bersikeras bahwa Hegseth telah membantah pemberian perintah itu, tetapi mengatakan penyelidikan tetap akan dilakukan. Venezuela menilai tindakan tersebut sebagai “eksekusi di luar hukum,” karena tidak ada perang resmi yang sedang berlangsung antara kedua negara.
Di tengah memanasnya situasi, AS terus memperkuat kehadiran militernya di sekitar Venezuela, termasuk menempatkan kapal induk terbesar di dunia dan melakukan patroli udara intensif. Meski beberapa maskapai penerbangan telah membatalkan layanan ke negara itu, bandara internasional Caracas tetap beroperasi normal. Dengan komunikasi langsung Trump-Maduro dan meningkatnya kekuatan militer di wilayah tersebut, banyak pihak khawatir bahwa krisis diplomatik ini dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. (az)
Sumber: Newsmaker.id