Defisit Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Menyempit di Q1
Defisit neraca transaksi berjalan Indonesia menurun menjadi USD 0,17 miliar pada Q1 2025, turun dari USD 2,44 miliar pada Q1 2024.
Ini menandai defisit kuartal kedelapan berturut-turut, tetapi ini merupakan defisit terkecil dalam rangkaian tersebut, yang hanya mewakili 0,1% dari PDB negara tersebut.
Defisit pendapatan primer meningkat sedikit menjadi USD 9,37 miliar dari USD 8,84 miliar tahun sebelumnya, sementara defisit neraca jasa melebar menjadi USD 5,44 miliar dari USD 4,19 miliar.
Sementara itu, surplus perdagangan melonjak menjadi USD 13,06 miliar, dibandingkan dengan USD 9,29 miliar tahun sebelumnya, dan surplus pendapatan sekunder naik menjadi USD 1,57 miliar dari USD 1,30 miliar.
Tahun lalu, defisit transaksi berjalan melebar tajam menjadi USD 8,47 miliar (0,6% dari PDB), naik dari USD 2,04 miliar pada tahun 2023 (0,1% dari PDB), didorong oleh penurunan surplus perdagangan di tengah permintaan luar negeri yang lemah, sementara permintaan domestik tetap kuat.
Namun, angka tersebut masih dalam kisaran target bank sentral sebesar 0,1% hingga 0,9%.(CP)
Sumber: Trading Economi