AS-Iran Siap Gelar Pembicaraan Nuklir ditengah Bayangan Ancaman Perang
Pembicaraan nuklir AS–Iran dimulai di Jenewa, Swiss, Selasa (17/2), dalam format tidak langsung dan dimediasi Oman, ketika ancaman konflik terbuka kembali menghantui wilayah tersebut. Washington disebut menambah kekuatan militernya di Timur Tengah, sementara pasar menunggu apakah diplomasi mampu menahan eskalasi yang sudah terlanjur memanaskan sentimen global.
Menurut sumber, delegasi AS yang dipimpin utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu secara tidak langsung dengan Menlu Iran Abbas Araqchi. Pertemuan tertutup ini dijadwalkan mulai pukul 09.00 waktu Jenewa (08.00 GMT / sekitar 15.00 WIB), dengan peran mediator Oman sebagai penghubung pesan antar-kedua pihak.
Presiden AS Donald Trump menyatakan akan terlibat “secara tidak langsung” dan menganggap Teheran ingin membuat kesepakatan, sembari mengingatkan adanya konsekuensi bila negosiasi gagal. Di saat yang sama, Reuters melaporkan militer AS menyiapkan opsi operasi berkepanjangan bila Trump memerintahkan serangan—sebuah sinyal bahwa meja diplomasi berjalan beriringan dengan kalkulasi militer.
Bayang-bayang eskalasi ini tidak lepas dari rangkaian peristiwa sebelumnya: Reuters menulis bahwa pada periode lalu, serangan Israel diikuti keterlibatan pesawat pengebom B-2 AS yang menghantam target nuklir, dan Iran kemudian menyatakan menghentikan aktivitas pengayaan uraniumnya. Trauma episode itu membuat pembicaraan kali ini berlangsung dengan tensi yang jauh lebih tinggi, karena kedua pihak sama-sama menguji batas “garis merah”.
Di lapangan, Iran menambah sinyal kesiagaan dengan menggelar latihan militer di Selat Hormuz pada Senin—koridor vital ekspor energi kawasan—saat negara-negara Teluk menyerukan jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan. Perkembangan ini ikut membayangi pasar: Brent dilaporkan bergerak lebih rendah di perdagangan Asia ketika investor menakar ulang risiko gangguan pasokan jelang negosiasi.
Di sisi substansi, inti perselisihan tetap pada program nuklir: AS dan Israel menilai Iran berupaya memiliki senjata nuklir, sedangkan Iran bersikukuh programnya damai—meski pengayaan uranium pernah mencapai level yang mendekati kebutuhan senjata. IAEA juga terus menekan isu transparansi dan akses inspeksi, yang membuat ruang kompromi kian sempit di tengah tekanan politik domestik Iran serta dampak sanksi terhadap ekonomi dan pendapatan minyak.
Dengan jadwal dimulai pagi waktu Jenewa, pasar menanti “headline pertama” dari pertemuan ini: jika muncul sinyal de-eskalasi, risk premium minyak berpotensi cepat luntur; sebaliknya, jika pembicaraan macet atau retorika mengeras, volatilitas bisa naik tajam—terutama saat likuiditas global masih mudah berubah karena faktor libur dan agenda data moneter AS yang padat pekan ini.(yds)
Sumber: Newsmaker.id