
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Amerika Serikat dibuka melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026), ketika investor memilih berhati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve. Pada awal perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun sekitar 140 poin atau 0,3%, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah sekitar 0,1%.
Tekanan terhadap Wall Street terutama datang dari pasar obligasi. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun masih berada di sekitar 5% setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2007. Yield yang tinggi meningkatkan biaya pendanaan sekaligus membuat obligasi semakin kompetitif dibandingkan saham, terutama saham teknologi dengan valuasi tinggi.
Harga minyak yang tetap berada di atas US$100 per barel turut menambah tekanan. WTI bergerak di sekitar US$102 per barel pada awal sesi, sementara konflik di Timur Tengah terus memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Kenaikan harga minyak dikhawatirkan menjaga tekanan inflasi AS tetap tinggi dan memperkuat alasan The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneter.
Saham-saham teknologi mulai menunjukkan stabilisasi setelah mengalami tekanan besar pada perdagangan sebelumnya akibat kekhawatiran mengenai perkembangan kecerdasan buatan. Nvidia bergerak lebih baik setelah CEO Jensen Huang menepis seruan untuk memperlambat pengembangan AI, sementara sektor semikonduktor mencoba pulih dari aksi jual tajam sehari sebelumnya.
Perhatian utama investor kini tertuju pada pertemuan dua hari Federal Open Market Committee yang dimulai Selasa. Pasar memperkirakan peluang sangat besar bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menyusul tekanan inflasi dan kenaikan harga energi. Ekspektasi kenaikan bunga tersebut menjadi salah satu faktor terbesar yang membatasi selera risiko di Wall Street.
Pergerakan Wall Street sepanjang sesi diperkirakan tetap sensitif terhadap perubahan yield Treasury dan harga minyak menjelang keputusan The Fed pada Rabu. Jika yield kembali menembus lebih tinggi di atas 5% dan minyak melanjutkan reli, tekanan terhadap saham berisiko kembali meningkat. Sebaliknya, meredanya kedua faktor tersebut dapat memberi ruang bagi indeks saham AS untuk melakukan rebound menjelang pengumuman kebijakan moneter.(CP)