
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin (26/10), setelah mencatatkan penurunan mingguan terdalam sejak Juni lalu. Emas spot diperdagangkan di kisaran US$3.996,80 per troy ounce pada pukul 06.18 WIB, menyusul pelemahan lebih dari 4% sepanjang pekan sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati investor dalam menghadapi ketidakpastian harga energi global serta menantikan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Sementara itu, harga minyak mulai mengalami koreksi terbatas dari level tertinggi dalam enam bulan, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa dirinya hampir mengambil keputusan terkait kemungkinan kesepakatan dengan Iran atau melanjutkan serangan militer.
Tekanan terhadap emas masih dipengaruhi oleh tingginya harga energi yang meningkatkan risiko inflasi global. Meskipun harga minyak mulai melemah, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat konflik AS-Iran belum sepenuhnya mereda. Di sisi lain, sentimen konsumen AS tercatat turun ke level terendah dalam lima bulan pada Oktober, memberikan sinyal melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi. Kondisi tersebut menciptakan dilema bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter, mengingat tekanan inflasi yang masih tinggi berpotensi membatasi ruang pelonggaran suku bunga, sementara perlambatan ekonomi membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih akomodatif.
Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober mendatang, dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 10%.
Meskipun bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, lonjakan biaya energi telah memperkuat spekulasi mengenai kemungkinan pengetatan moneter sebelum akhir tahun. Ekspektasi suku bunga tinggi menjadi salah satu faktor utama yang membebani emas karena meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil. Selain itu, tekanan jual pada saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi pasar logam mulia, ketika sebagian investor melepas kepemilikan emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dan menutupi kerugian di pasar saham.
Newsmaker mencermati bahwa prospek pergerakan emas dalam jangka pendek masih dibayangi kombinasi tekanan inflasi, ketidakpastian geopolitik, dan ekspektasi kebijakan moneter AS. Sejak konflik AS-Iran dimulai pada akhir Februari, harga emas dilaporkan telah kehilangan sekitar seperempat nilainya, mencerminkan besarnya tekanan yang dihadapi logam mulia.
Area psikologis US$4.000 per troy ounce kini menjadi perhatian utama pasar. Apabila The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih ketat dan imbal hasil obligasi AS kembali meningkat, emas berisiko melanjutkan pelemahan. Sebaliknya, meredanya ketegangan Timur Tengah, penurunan harga minyak, serta sinyal kebijakan moneter yang lebih lunak dapat membuka peluang pemulihan harga emas.