
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas melemah di tengah tekanan dari penguatan dolar AS pada Kamis (24/9), kenaikan imbal hasil obligasi, serta lonjakan harga energi yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve. Harga emas (XAU/USD) bergerak di sekitar US$4.274 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat turun menuju area US$4.244 per troy ounce. Pelemahan ini memperpanjang penurunan setelah emas terkoreksi pada perdagangan sebelumnya akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Tekanan terhadap emas meningkat setelah harga minyak kembali menguat di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah dan belum adanya kepastian kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali jalur energi melalui Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi, sehingga pasar kembali memperkirakan The Fed perlu mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan melakukan kenaikan tambahan.
Pergerakan emas dalam beberapa pekan terakhir sangat dipengaruhi oleh prospek suku bunga The Fed. Aset emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung kehilangan daya tarik ketika biaya pinjaman meningkat dan imbal hasil obligasi naik. Saat ini investor terus mencermati apakah tekanan energi akan menjadi faktor yang membuat inflasi kembali sulit turun menuju target 2% The Fed.
Selain emas, pasar obligasi AS juga mengalami tekanan dengan kenaikan imbal hasil Treasury tenor panjang ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama akibat kombinasi harga energi, permintaan ekonomi yang kuat, dan risiko geopolitik.
Dari sisi pasar mata uang, indeks dolar AS kembali menguat karena investor mencari aset aman sekaligus memperhitungkan peluang kebijakan The Fed yang lebih agresif. Penguatan dolar menjadi faktor tambahan yang membatasi potensi kenaikan emas karena membuat komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Analisis Newsmaker: Emas saat ini menghadapi tekanan ganda dari dua arah, yaitu ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dan kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik. Namun, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor pendukung bagi emas sebagai aset lindung nilai. Arah berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan hubungan AS-Iran, pergerakan minyak, serta data ekonomi AS yang dapat memengaruhi keputusan The Fed.
Sumber: Newsmaker.id