
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas menguat lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (16/9), didukung pelemahan dolar AS, penurunan harga minyak, dan koreksi yield Treasury. Spot gold naik 1,3% ke sekitar US$4.346,30 per troy ounce, sementara kontrak emas AS Desember menguat ke US$4.387,60.
Penurunan harga minyak setelah reli dua hari membantu meredakan sebagian kekhawatiran inflasi, sementara dolar AS yang lebih lemah membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Yield obligasi AS yang mulai turun juga mengurangi tekanan terhadap bullion.
Namun, arah emas selanjutnya masih sangat bergantung pada keputusan Federal Reserve. Pasar memperkirakan peluang sekitar 93% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin, dengan perhatian utama tertuju pada konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh.
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi tekanan bagi emas karena meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil. Di sisi lain, defisit fiskal yang besar dan kekhawatiran terhadap nilai dolar tetap menjadi faktor yang mendukung permintaan terhadap hard assets seperti emas.
Analisis Newsmaker: Rebound emas ke atas US$4.340 menunjukkan tekanan jangka pendek mulai mereda, tetapi tren masih sangat sensitif terhadap FOMC. Jika Warsh membuka peluang kenaikan bunga lanjutan, emas berisiko kembali terkoreksi. Sebaliknya, jika The Fed terdengar lebih hati-hati, pelemahan dolar dan yield dapat membuka ruang kenaikan menuju area US$4.380–US$4.400. (arl)
Sumber: Newsmaker.id