
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bertahan kuat pada perdagangan Selasa (15/9) setelah serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi di Timur Tengah. Brent naik sekitar 2% ke US$107,83 per barel, sementara WTI menguat 2,1% ke US$103,50 per barel.
Tekanan terhadap pasokan bertambah setelah kelompok Houthi yang didukung Iran kembali menyerang sejumlah target di Arab Saudi dan memperkuat posisinya di sepanjang Laut Merah. Posisi tersebut memberi kelompok itu kemampuan lebih besar untuk mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur penting perdagangan energi dunia.
Risiko juga meningkat karena pipa East-West Arab Saudi masih belum kembali beroperasi setelah serangan pekan lalu. Sejumlah analis memperkirakan perkembangan ini dapat mengganggu tambahan sekitar 4% hingga 5% pasokan minyak global jika konflik terus meluas.
Di sisi diplomasi, pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz masih tertunda. Jalur tersebut sebelum perang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sementara arus pengiriman saat ini masih jauh di bawah kondisi normal.
Analisa Newsmaker: fundamental minyak masih cenderung bullish karena pasar belum mendapat kepastian mengenai pemulihan pipa Saudi maupun pembukaan kembali Hormuz. Selama risiko di Hormuz dan Bab el-Mandeb tetap tinggi, premi geopolitik berpotensi menjaga Brent dan WTI di level tinggi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id