• Mon, Jun 22, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

22 June 2026 09:17  |

The Fed Tekan Emas, Hormuz Bebani Minyak

Resume Pergerakan Emas dan Minyak Dunia

Pergerakan emas sepanjang pekan lalu menunjukkan perubahan arah yang cukup jelas. Pada awal pekan, emas sempat menguat karena pasar merespons positif kabar kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran geopolitik, menekan harga minyak, serta menurunkan risiko inflasi energi. Kondisi ini sempat membuat pelaku pasar memperkirakan tekanan suku bunga AS akan lebih ringan.

Namun, penguatan emas tidak bertahan lama. Tekanan mulai muncul setelah The Fed mempertahankan suku bunga, tetapi tetap memberi sinyal hawkish terkait peluang kenaikan biaya pinjaman pada akhir tahun. Sinyal tersebut mendorong penguatan dolar AS dan yield Treasury, sehingga emas kembali tertekan karena tidak memberikan imbal hasil seperti aset berbunga.

Secara mingguan, emas berubah dari reli yang didorong optimisme geopolitik menjadi koreksi akibat tekanan kebijakan moneter. Pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, sehingga biaya peluang memegang emas meningkat. Fokus berikutnya tertuju pada data inflasi AS, arah dolar, yield Treasury, arus ETF emas, serta kelanjutan implementasi kesepakatan AS-Iran.

Sementara itu, harga minyak bergerak lebih volatil. Pada awal pekan, minyak turun tajam setelah Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani memorandum of understanding untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Kabar ini membuat pasar melepas sebagian premi risiko perang yang sebelumnya menopang harga energi.

Tekanan terhadap minyak berlanjut karena investor menilai pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memulihkan arus energi dari kawasan Teluk. Jalur ini merupakan salah satu rute terpenting bagi pasokan minyak dan LNG dunia, sehingga berkurangnya risiko gangguan pasokan membuat harga minyak kehilangan dorongan kenaikan.

Meski demikian, harga minyak sempat kembali naik setelah Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran belum sepenuhnya final. Pernyataan tersebut menghidupkan kembali sebagian kekhawatiran geopolitik. Namun, kenaikan tetap terbatas karena pasar masih mencermati potensi kelebihan pasokan dan peluang pulihnya ekspor energi dari kawasan Teluk.

Menjelang akhir pekan, minyak bergerak cenderung stabil. Pasar masih menimbang klaim Iran terkait kewenangan di Selat Hormuz, laporan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, serta dampak kesepakatan AS-Iran terhadap pasokan global. Secara umum, minyak masih berada dalam tekanan karena premi risiko perang mulai berkurang, sementara prospek pasokan yang lebih lancar membuat ruang kenaikan harga menjadi terbatas.

PREDIKSI

Skenario Gold Minggu Ini

Berdasarkan chart Gold D1, harga emas dengan close di sekitar $4.155 masih berada dalam tekanan setelah membentuk pola lower high dan lower low. Bias satu pekan ke depan cenderung netral ke bearish selama harga belum mampu kembali menembus area $4.220–$4.250.

Area penting yang perlu diperhatikan ada di support $4.135–$4.100. Jika area ini jebol, emas berpotensi turun lanjutan ke $4.050–$4.000. Namun, jika harga mampu bertahan di atas $4.100 dan kembali menembus $4.220, peluang rebound terbuka ke $4.250–$4.300.

Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran dan isu Selat Hormuz masih bisa menopang emas sebagai aset safe haven. Namun, tekanan dari sinyal hawkish The Fed, dolar AS yang kuat, dan potensi kenaikan yield Treasury masih menjadi beban utama.

Skenario paling realistis pekan ini adalah emas bergerak volatil dalam rentang $4.100–$4.300. Arah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga AS.

Untuk BCO/Brent Oil, arah harga masih cenderung bearish. Dari chart D1, harga close di sekitar $79,13 dan masih bergerak turun setelah gagal bertahan di area atas.

Level penting yang perlu diperhatikan ada di support $78–$79. Jika area ini jebol, Brent berpotensi lanjut turun ke $76–$75. Namun, jika harga mampu bertahan di atas area tersebut, peluang rebound terbuka ke $82–$83.

Secara sentimen, minyak masih dipengaruhi isu geopolitik AS-Iran dan Selat Hormuz. Jika ketegangan kembali memanas, harga minyak bisa naik karena risiko gangguan pasokan. Tapi jika kesepakatan damai berjalan dan arus energi Teluk pulih, tekanan turun masih bisa berlanjut.

Kesimpulannya, BCO masih netral cenderung turun. Selama belum tembus $82–$83, kenaikan masih sebatas rebound. Area gerak pekan ini diperkirakan di kisaran $78–$83.

DISCLAIMER

Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi.

 

 

 

Related News

Gold Corner

Analisis Mingguan Pergerakan Emas,Perak dan Minyak (21–25 ...

Selama periode 21 hingga 25 Juli, pasar komoditas global menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis, dipengaruhi oleh gejolak...

28 July 2025 11:22
Gold Corner

BCO Weekly Review And Forecast.

Harga minyak turun pada hari Senin (16/6), memangkas lonjakan 7% pada hari Jumat, karena serangan militer baru oleh Israel da...

23 June 2025 10:35
Gold Corner

BCO Weekly Review And Forecast.

Minyak anjlok lebih dari 7% pada hari Senin (23/6) karena respons Iran terhadap serangan militer AS menyelamatkan infrastrukt...

30 June 2025 09:40
Gold Corner

BCO Weekly Review And Forecast.

Harga minyak turun tipis pada hari Senin (30/6) karena investor mempertimbangkan meredanya risiko Timur Tengah dan kemungkina...

7 July 2025 09:40
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai