
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi perluasan konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang dapat mengganggu pasokan energi global. Minyak mentah Brent menguat 2,8% menjadi US$111,84 per barel pada pukul 19.47 WIB, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% ke level US$99,67 per barel. Penguatan tersebut dipicu laporan mengenai kemungkinan serangan militer lanjutan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah persediaan minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan lebih besar dari perkiraan, sehingga memberikan dukungan tambahan terhadap kenaikan harga.
Menurut laporan The New York Times, Amerika Serikat dan Israel disebut tengah mempertimbangkan peningkatan serangan terhadap Iran, termasuk kemungkinan menargetkan infrastruktur energi, fasilitas nuklir, dan persenjataan strategis. Laporan tersebut juga menyebutkan adanya peningkatan persiapan militer, termasuk pembahasan sejumlah opsi antara Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, rencana tersebut masih berupa laporan mengenai pertimbangan militer, bukan keputusan serangan yang telah diumumkan secara resmi. Di sisi lain, Iran memperingatkan akan memberikan respons keras apabila serangan kembali dilancarkan, termasuk kemungkinan memperluas sasaran ke fasilitas energi dan infrastruktur strategis di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan minyak dan gas apabila konflik kembali meluas.
Ketegangan semakin meningkat setelah televisi pemerintah Iran melaporkan tujuh kapal tanker minyak mengalami kebakaran atau kerusakan di Selat Hormuz akibat serangan dan ranjau laut. Berdasarkan laporan yang dikutip Associated Press, empat kapal disebut terbakar ketika melakukan pemindahan minyak, sementara tiga lainnya mengalami kerusakan setelah menghantam ranjau. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi kembali menyoroti tingginya risiko keamanan jalur perdagangan energi dunia.
Di tengah situasi tersebut, ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia dilaporkan mulai mendekati tingkat sebelum konflik, meskipun gangguan logistik dan ancaman keamanan masih membayangi distribusi energi. Jika eskalasi militer benar-benar terjadi, kekhawatiran terhadap keterbatasan pasokan berpotensi semakin meningkat dan mempertahankan tekanan kenaikan harga minyak.
Kesimpulan
Lonjakan harga minyak menunjukkan bahwa risiko geopolitik kembali menjadi faktor dominan di pasar energi global. Kekhawatiran terhadap potensi serangan lanjutan AS-Israel terhadap Iran, ditambah meningkatnya ancaman keamanan di Selat Hormuz, membuat investor memperhitungkan kemungkinan gangguan distribusi minyak yang lebih besar.(yds)
Sumber: Newsmaker.id