
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melonjak dalam perdagangan setelah penutupan resmi Rabu (21/10/2026), dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi global. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember sebelumnya ditutup relatif stabil di level US$108,82 per barel, sebelum menguat menjadi US$110,33 per barel pada pukul 15.09 waktu New York. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) yang sempat anjlok 4,6% dan ditutup di US$97,15 per barel, kembali naik menjadi US$98,41 dalam perdagangan setelah penutupan. Pembalikan harga tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keamanan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga dipicu laporan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tengah mempersiapkan perintah keberangkatan bagi sebagian pegawai kedutaan beserta anggota keluarga mereka dari sejumlah negara kawasan Teluk. Langkah tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan meluasnya konflik regional. Di sisi lain, serangan drone terhadap salah satu ladang minyak Saudi Aramco dilaporkan menewaskan dua orang, sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Arab Saudi. Rangkaian perkembangan tersebut kembali meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar energi, terutama ketika keamanan fasilitas produksi dan jalur distribusi minyak masih berada dalam ancaman.
Sepanjang 2026, harga minyak dilaporkan telah melonjak sekitar 80%, sementara harga produk olahan seperti solar mencatat kenaikan lebih tinggi akibat gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz serta serangan Ukraina terhadap sejumlah kilang minyak Rusia. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan energi dan tekanan biaya bagi konsumen global. Investor kini mencermati perkembangan keamanan Timur Tengah, potensi tindakan lanjutan Amerika Serikat, serta kelancaran distribusi minyak internasional. Jika ketegangan terus meningkat, harga minyak berpotensi mempertahankan penguatan. Sebaliknya, meredanya konflik dan pulihnya jalur pengiriman dapat membuka peluang koreksi harga.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id