
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (22/10/2026), dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi setelah serangan drone menargetkan fasilitas minyak Arab Saudi. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik 1,2% menjadi US$110,08 per barel pada pukul 07.02 WIB, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1% ke level US$98,12 per barel. Penguatan ini terjadi setelah serangan terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya. Meski operasional ladang minyak dilaporkan tidak terganggu, insiden tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Timur Tengah. Amerika Serikat juga memerintahkan sebagian personel kedutaan beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi sebagai langkah antisipasi meningkatnya ancaman keamanan.
Ketegangan geopolitik terus membayangi pasar minyak setelah Iran meningkatkan aktivitas serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, sementara kelompok Houthi Yaman terus mengancam sejumlah fasilitas strategis Arab Saudi. Sejak awal tahun, harga Brent dilaporkan telah melonjak sekitar 80% akibat konflik AS-Iran yang mengganggu distribusi energi dari kawasan Teluk Persia. Namun, ekspor minyak mentah Timur Tengah mulai menunjukkan pemulihan dan mendekati tingkat sebelum perang, termasuk dari Kuwait yang kembali meningkatkan aktivitas pengiriman. Meski demikian, pengiriman produk olahan seperti solar dan bahan bakar pesawat masih menghadapi keterbatasan kapal tanker serta tingginya risiko keamanan. Kondisi ini membuat harga produk energi olahan tetap tinggi meskipun pasokan minyak mentah berangsur pulih.
Di sisi lain, pasar masih dibayangi kemungkinan meningkatnya ketegangan militer setelah muncul laporan mengenai rencana serangan lanjutan AS dan Israel terhadap Iran seusai pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang. Sementara itu, data persediaan energi AS menunjukkan stok minyak mentah turun lebih dari 3 juta barel, sedangkan persediaan produk distilat meningkat sekitar 1,7 juta barel, memberikan gambaran beragam mengenai keseimbangan pasokan energi. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, keamanan Selat Hormuz, serta kemampuan negara-negara produsen mempertahankan ekspor minyak. Jika ketegangan kembali meningkat, harga minyak berpotensi melanjutkan penguatan. Sebaliknya, normalisasi pengiriman dan kemajuan diplomasi dapat membatasi kenaikan harga.