
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan lebih besar dari perkiraan pada pekan yang berakhir 16 Oktober 2026, memberikan sentimen positif bagi pasar energi global. Berdasarkan data terbaru, stok minyak mentah AS menyusut 3,061 juta barel, jauh melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan hanya sebesar 800.000 barel. Penurunan tersebut mengindikasikan adanya pengetatan persediaan minyak secara nasional, meskipun stok di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma, justru meningkat 987.000 barel.
Penurunan juga terjadi pada persediaan bensin AS yang merosot 2,952 juta barel, jauh lebih besar dibandingkan perkiraan penurunan sebesar 400.000 barel. Sementara itu, persediaan produk distilat, termasuk solar dan minyak pemanas, justru meningkat 1,675 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan sebesar 1,2 juta barel. Aktivitas pengolahan minyak di kilang naik tipis sebesar 34.000 barel per hari, sedangkan impor bersih minyak mentah AS meningkat 837.000 barel per hari. Perbedaan pergerakan persediaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasokan dan permintaan energi AS masih bervariasi antarkategori produk.
Data persediaan yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi memberikan dukungan terhadap harga minyak dunia, terutama ketika pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik Timur Tengah dan ancaman gangguan distribusi melalui Selat Hormuz. Namun, kenaikan stok minyak di Cushing dan persediaan distilat dapat membatasi optimisme investor terhadap pengetatan pasokan secara menyeluruh. Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan permintaan energi AS, kelancaran ekspor minyak Timur Tengah, serta pergerakan dolar AS untuk menentukan arah harga minyak berikutnya.
Point of View Newsmaker
Penurunan stok minyak mentah AS sebesar 3,061 juta barel menunjukkan bahwa persediaan minyak nasional menyusut jauh lebih cepat dari perkiraan pasar. Kondisi ini dapat menjadi katalis bullish bagi harga minyak, terutama ketika risiko geopolitik masih tinggi.
Namun, kenaikan persediaan distilat dan stok di Cushing menjadi faktor penyeimbang. Artinya, penurunan stok minyak nasional belum tentu mencerminkan kekurangan pasokan di seluruh pasar energi.
Kesimpulan Newsmaker: Data persediaan minyak AS memberikan sentimen bullish jangka pendek, tetapi belum cukup untuk memastikan kenaikan harga secara berkelanjutan. Jika minyak kembali menguat, tekanan inflasi AS berpotensi meningkat dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, sehingga dapat menjadi hambatan bagi penguatan harga emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id