
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (21/10/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik Timur Tengah yang belum mereda.
Minyak mentah Brent naik 0,86% menjadi US$109,73 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 0,78% ke level US$98,58 per barel pada pukul 14.33 WIB. Kenaikan ini dipicu meningkatnya risiko keamanan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz serta ancaman serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi, yang membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan premi risiko geopolitik dalam harga minyak.
Ketegangan meningkat setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa ranjau laut yang dipasang di Selat Hormuz telah menghalangi tiga kapal tanker yang mencoba melintasi jalur tanpa izin otoritas Teheran. Dua kapal tanker bahkan diklaim terbakar akibat ledakan ranjau, meskipun rincian insiden tersebut masih memerlukan verifikasi independen. Di sisi lain, kelompok Houthi Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Arab Saudi, termasuk fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara di Riyadh dan Abha. Rangkaian insiden ini semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional.
Dampak konflik tidak hanya terlihat pada harga minyak mentah, tetapi juga pada lonjakan biaya pengiriman energi dunia. Goldman Sachs melaporkan bahwa rata-rata tarif pengangkutan minyak mentah global telah melampaui US$20 per barel, dibandingkan sekitar US$3 per barel pada tahun sebelumnya atau meningkat hampir tujuh kali lipat. Premi risiko perang untuk pelayaran melalui Selat Hormuz diperkirakan menyumbang sekitar US$7 terhadap kenaikan biaya pengangkutan tersebut. Tingginya tarif pengiriman berpotensi menekan margin keuntungan kilang minyak, terutama di Asia, sekaligus meningkatkan harga produk bahan bakar olahan di pasar global.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan keamanan Selat Hormuz, aktivitas militer Iran dan kelompok Houthi, serta kemampuan negara-negara produsen mempertahankan kelancaran ekspor minyak. Meskipun aliran minyak dari kawasan Teluk menunjukkan pemulihan, tingginya biaya logistik dan ancaman serangan terhadap kapal tanker masih membatasi optimisme pasar. Apabila gangguan jalur pelayaran semakin meluas, harga minyak berpotensi mempertahankan penguatan dan kembali menguji level tertinggi sebelumnya. Sebaliknya, meredanya konflik dan normalisasi pengiriman energi dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak dunia.
Point of View Newsmaker
Pergerakan harga minyak saat ini menunjukkan bahwa persoalan utama pasar energi bukan hanya ketersediaan pasokan, melainkan juga tingginya biaya dan risiko untuk mengirimkan minyak sampai ke negara pembeli. Meskipun produksi dan ekspor minyak dapat dipertahankan, lonjakan ongkos pengiriman serta premi asuransi perang tetap berpotensi meningkatkan harga energi yang harus dibayar konsumen.
Dari sisi teknikal, Brent perlu mempertahankan area US$108 sebagai support jangka pendek. Apabila ketegangan Selat Hormuz terus meningkat, harga berpeluang kembali menguji US$110–112, dengan potensi penguatan menuju US$115 jika risiko gangguan pasokan semakin besar. Sebaliknya, meredanya ketegangan dapat membuka peluang koreksi menuju US$105 per barel. Level tersebut merupakan skenario pemantauan teknikal, bukan kepastian pergerakan harga.
Kesimpulan: Minyak dunia masih memiliki kecenderungan bullish akibat tingginya risiko geopolitik. Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi global berpotensi bertahan lebih lama dan memperkuat alasan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya impor energi, menambah tekanan terhadap rupiah, serta memengaruhi prospek inflasi domestik.
Sumber: Newsmaker.id