
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah bergerak lebih rendah pada Jumat (16/10), tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan seiring ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah dan penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan. Brent tercatat di US$105,39 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$97,75 per barel. Untuk pekan ini, Brent masih menguat sekitar 0,44%, sedangkan WTI melonjak 5,81%.
Kenaikan WTI sebelumnya didorong oleh penurunan besar stok minyak mentah AS setelah gangguan produksi akibat badai. Namun, perhatian pasar kini kembali tertuju pada Selat Hormuz, tempat aktivitas serangan meningkat dalam 10 hari terakhir. Data Kpler menunjukkan rata-rata kapal yang melewati Selat Hormuz hanya sekitar 11,62 juta barel per hari hingga 13 Oktober, atau sekitar 68% dari kondisi normal sebesar 17,15 juta barel per hari.
Tekanan terhadap pasokan juga datang dari meningkatnya konflik antara Iran dan kelompok Houthi dengan Arab Saudi. Serangan terhadap kapal di sekitar Hormuz berpotensi menghambat pemulihan arus minyak dari kawasan Teluk, sementara serangan Houthi terhadap infrastruktur Saudi menambah risiko terhadap rantai pasokan energi regional.
Di sisi lain, International Energy Agency (IEA) menyepakati pelepasan lebih dari 20 juta barel diesel ke pasar serta sisa minyak dari pelepasan cadangan darurat sebelumnya. Langkah tersebut diharapkan membantu meningkatkan pasokan dan meredakan harga energi, meski respons pasar menunjukkan bahwa investor masih menilai risiko geopolitik sebagai faktor yang lebih dominan.
Amerika Serikat juga mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap sejumlah kapal yang masuk dalam kategori shadow fleet dan sebelumnya mengangkut minyak serta produk energi dari Rusia, Iran, dan Venezuela. Kebijakan tersebut berpotensi menurunkan biaya pengiriman global dan meningkatkan kelancaran distribusi minyak.
Analisis Newsmaker: Harga minyak masih berada dalam kondisi volatil karena pasar menghadapi tarik-menarik antara risiko pasokan dan upaya meningkatkan ketersediaan minyak global. Penurunan stok AS dan gangguan arus melalui Hormuz menjadi faktor pendukung harga, sementara pelepasan cadangan strategis dan potensi pelonggaran sanksi dapat membatasi kenaikan. Selama belum ada kesepakatan yang mampu meredakan ketegangan AS-Iran dan menjamin kelancaran pelayaran di Hormuz, premi risiko geopolitik masih berpotensi bertahan. (asd)
Sumber: Newsmaker.id