
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak melemah pada perdagangan Senin (12/10), dengan Brent berada di US$104,35 per barel dan WTI di US$92,40 per barel. Pelemahan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Rusia dan Ukraina sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Kesepakatan tersebut, ditambah rencana Rusia memasok lebih banyak diesel ke pasar AS dan global, meningkatkan ekspektasi bahwa pasokan energi global akan kembali bertambah.
Trump mengatakan Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton atau sekitar 2,25 juta barel diesel ke pasar global, disusul tambahan 500.000 ton pada November dan 1 juta ton berikutnya setelah itu. Langkah tersebut berpotensi mengurangi tekanan pasokan diesel global yang sebelumnya meningkat akibat gangguan energi. Namun, keberlanjutan gencatan senjata energi Rusia-Ukraina masih dipertanyakan karena Ukraina masih menunggu rincian kesepakatan, sementara Rusia belum memberikan konfirmasi resmi.
Di tengah potensi tambahan pasokan tersebut, harga minyak masih mendapatkan dukungan dari konflik Timur Tengah. Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap bandara internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan terbaru terhadap fasilitas tersebut kembali meningkatkan risiko eskalasi, terutama setelah Trump mengatakan AS sedang mempertimbangkan untuk membantu Arab Saudi menghadapi Houthi yang didukung Iran.
Risiko terhadap pasokan energi juga datang dari Selat Hormuz. Sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami serangan sepanjang bulan ini, termasuk sebuah tanker yang diserang drone di sekitar wilayah Sohar, Oman, serta kapal lain yang rusak akibat proyektil saat melintasi Selat Hormuz. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pemulihan ekspor minyak Timur Tengah dan mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga Brent.
Di Amerika Serikat, perusahaan energi Shell, Chevron, dan BP mulai berupaya mengembalikan personel serta memulihkan produksi di sejumlah fasilitas Teluk Meksiko setelah Badai Isaias melanda kawasan tersebut. Sementara itu, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent Desember menjadi US$90 per barel dari US$85 sebelumnya. Bank tersebut menilai penyesuaian pasokan Timur Tengah pada akhirnya dapat menekan harga minyak, tetapi eskalasi geopolitik baru tetap menjadi risiko kenaikan yang signifikan. (asd)
Sumber: Newsmaker.id