
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum sela pada 3 November. Harga Brent turun mendekati US$103 per barel, sementara WTI bergerak di bawah US$91 setelah sebelumnya melonjak lebih dari 4% pada Kamis. Pernyataan Trump mengenai adanya “diskusi produktif” dengan Iran membuat pasar mulai mengurangi sebagian premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak.
Meski demikian, risiko gangguan pasokan belum sepenuhnya hilang. Iran masih meningkatkan serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz, sementara blokade AS terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan. Laporan mengenai dugaan kapal tanker terkena ranjau di sekitar Hormuz juga menambah ketidakpastian, meskipun belum mendapatkan konfirmasi independen. Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati untuk mengambil posisi jual agresif meskipun harga mulai terkoreksi.
Di sisi lain, pasar mendapatkan sinyal bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat. Trump menyebut sekitar 22 juta barel minyak mengalir melalui jalur tersebut dalam satu malam, meskipun angka tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi sejumlah pelaku industri. Pemulihan arus pasokan berpotensi mengurangi tekanan di pasar fisik, tetapi biaya pengangkutan minyak dari Teluk Persia menuju Asia Timur masih melonjak lebih dari enam kali lipat dibandingkan sebelum konflik.
Tekanan terhadap pasokan juga datang dari Amerika Serikat setelah Badai Isaias mengganggu produksi minyak di Teluk Meksiko. Sekitar 1,3 juta barel per hari produksi minyak mentah telah dihentikan, atau lebih dari 60% produksi kawasan tersebut. Ancaman badai terhadap fasilitas produksi dan kilang membuat penurunan harga minyak menjadi terbatas karena pasar masih memperhitungkan potensi gangguan pasokan dari AS di tengah ketidakpastian Timur Tengah.
Newsmaker melihat, pasar minyak saat ini berada dalam tarik-menarik antara membaiknya pasokan dan tingginya risiko geopolitik. Pernyataan Trump memberikan tekanan turun karena mengurangi kemungkinan eskalasi langsung AS-Iran dalam jangka pendek. Namun, selama serangan terhadap kapal di Hormuz berlanjut dan produksi AS terganggu akibat badai, premi risiko masih akan bertahan. Jika diplomasi AS-Iran semakin maju dan arus minyak terus pulih, Brent berpotensi kembali tertekan menuju bawah US$100. Sebaliknya, eskalasi baru di Hormuz dapat dengan cepat mendorong harga kembali naik.