
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada perdagangan Jumat (9/10) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela pada 3 November. Brent turun 0,4% ke US$103,94 per barel, sementara WTI melemah 0,2% ke US$91,27. Pernyataan tersebut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi langsung antara Washington dan Tehran setelah sebelumnya harga minyak melonjak akibat meningkatnya risiko konflik.
Trump juga mengatakan pembicaraan dengan Iran berlangsung produktif, meskipun ketegangan di kawasan masih tinggi. Di sisi lain, laporan mengenai rencana serangan selama tiga hari yang telah disiapkan Pentagon menunjukkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Karena itu, pelemahan minyak lebih mencerminkan berkurangnya risiko eskalasi dalam waktu dekat, bukan berakhirnya konflik maupun ancaman terhadap pasokan energi.
Dari sisi pasokan, tekanan terhadap harga masih tertahan oleh gangguan produksi di Amerika Serikat. Hurricane Isaias telah menyebabkan sekitar 1,3 juta barel per hari produksi minyak di Teluk Meksiko dihentikan, atau lebih dari 60% produksi kawasan tersebut. Gangguan ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan risiko pasokan dari Timur Tengah, sehingga pasar masih menghadapi ketidakpastian dari dua kawasan produksi penting.
Selat Hormuz juga tetap menjadi faktor utama. Meskipun arus minyak melalui jalur tersebut mulai meningkat, serangan terhadap kapal dan meningkatnya biaya pengiriman masih memberikan premi risiko pada harga minyak. Konflik antara Houthi dan Arab Saudi turut menambah ketidakpastian terhadap keamanan jalur perdagangan energi. Dengan demikian, pasar masih memiliki alasan untuk mempertahankan harga minyak di level tinggi meskipun risiko serangan AS terhadap Iran untuk sementara mereda.
Newsmaker melihat, harga minyak masih berada dalam kondisi volatil dengan dua katalis yang berlawanan. Meredanya risiko serangan AS terhadap Iran memberikan tekanan turun, sementara gangguan produksi akibat badai dan risiko keamanan di Selat Hormuz menjadi penopang harga. Dalam jangka pendek, arah minyak akan sangat bergantung pada perkembangan pembicaraan AS-Iran, kondisi pelayaran di Hormuz, serta pemulihan produksi AS. Jika ketegangan geopolitik terus mereda dan produksi kembali normal, Brent berpotensi mengalami koreksi lebih lanjut. Sebaliknya, eskalasi baru dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko ke pasar.