
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak relatif stabil pada awal perdagangan Rabu (7/10) setelah pasar kembali menimbang dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan sedikit mereda. Namun di sisi lain, meningkatnya serangan Iran terhadap kapal di kawasan tersebut membuat investor tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan baru terhadap jalur perdagangan energi global.
Arus minyak dari Timur Tengah kini diperkirakan telah pulih sekitar 80% dari level sebelum konflik. Sejumlah pelaku pasar juga melihat semakin banyak kapal yang kembali melewati Selat Hormuz sebagai tanda bahwa pasokan masih dapat mengalir. Kondisi tersebut membuat sebagian premi risiko geopolitik mulai berkurang. Namun, persediaan global yang semakin menipis membuat pasar memiliki ruang yang lebih kecil untuk menyerap gangguan pasokan baru.
Risiko tersebut kembali terlihat dari meningkatnya serangan terhadap kapal. Otoritas perdagangan maritim Inggris melaporkan sedikitnya sembilan serangan di kawasan Selat Hormuz sepanjang Oktober, jumlah yang sudah mencapai sekitar setengah dari total serangan di Selat Hormuz dan Teluk Persia sepanjang September. Jika serangan semakin intensif dan menghambat lalu lintas kapal tanker, harga minyak berpotensi kembali mendapatkan dorongan bullish.
Di sisi lain, pasar juga menunggu perkembangan rencana G7 untuk melepas hingga 100 juta barel minyak mentah dan diesel dari cadangan strategis. Badan Energi Internasional (IEA) dijadwalkan membahas mekanisme pelepasan tersebut. Tambahan pasokan dari cadangan strategis dapat membantu meredakan tekanan harga, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada seberapa cepat minyak dan produk bahan bakar benar-benar masuk ke pasar.
Analisa Newsmaker :
Fundamental minyak saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat sensitif terhadap berita geopolitik. Pemulihan arus ekspor dan rencana pelepasan cadangan G7 menjadi faktor yang menahan kenaikan, sementara serangan terhadap kapal, persediaan yang menipis, serta risiko gangguan Selat Hormuz menjadi penopang harga. Selama jalur perdagangan tetap terbuka, minyak berpotensi bergerak terbatas. Namun jika Hormuz kembali terganggu secara signifikan, risiko lonjakan harga dapat muncul dengan cepat.
Sumber: Newsmaker.id