
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Rabu (7/10), setelah pasar mempertimbangkan pemulihan arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan meningkatnya serangan terhadap kapal di kawasan tersebut. Brent kembali bergerak di atas US$101 per barel, sementara WTI mendekati US$90. Membaiknya arus pasokan memang mengurangi kekhawatiran kelangkaan, tetapi risiko gangguan jalur perdagangan membuat investor tetap memasukkan premi geopolitik ke dalam harga minyak.
Arus minyak melalui Selat Hormuz disebut telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan pasokan dari Timur Tengah kini pulih sekitar 80% dari level sebelum konflik. Namun, aktivitas kapal masih menghadapi risiko keamanan. Otoritas perdagangan maritim Inggris melaporkan sedikitnya sembilan serangan di kawasan tersebut sepanjang Oktober. Jika serangan semakin intensif hingga menghambat pergerakan tanker, pemulihan pasokan dapat kembali terganggu.
Kondisi pasar fisik juga belum sepenuhnya longgar. Persediaan minyak dan produk bahan bakar global terus menjadi perhatian, sementara stok minyak mentah Amerika Serikat diperkirakan turun sekitar 2,1 juta barel dalam sepekan terakhir. Investor kini menunggu data resmi persediaan minyak AS untuk melihat apakah penurunan stok tersebut benar-benar terjadi. Di sisi lain, rencana pelepasan hingga 100 juta barel minyak mentah dan diesel oleh G7 juga akan menjadi perhatian pasar.
Selain Timur Tengah, pasar minyak Amerika Serikat menghadapi risiko tambahan dari potensi badai tropis di kawasan Teluk Meksiko. Sistem cuaca tersebut diperkirakan dapat berkembang menjadi badai dan berpotensi mengganggu aktivitas produksi minyak serta gas lepas pantai jika jalurnya berubah. Sejumlah perusahaan energi juga mulai mengambil langkah antisipasi, meskipun sejauh ini belum ada perubahan besar terhadap tingkat produksi.
Newsmaker melihat, fundamental minyak saat ini masih cenderung bullish tetapi sangat volatil. Pemulihan arus minyak dan rencana pelepasan cadangan G7 menjadi faktor yang menahan kenaikan, sementara serangan terhadap kapal, stok global yang menipis, dan risiko gangguan infrastruktur menjadi penopang harga. Selama Selat Hormuz tetap terbuka, kenaikan berpotensi terbatas. Namun, eskalasi konflik yang mengganggu jalur ekspor dapat dengan cepat mendorong harga minyak lebih tinggi.