
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak menunjukkan pergerakan yang sangat volatil. Brent berada di US$102,30 per barel, naik tipis 5 sen, sedangkan WTI berada di US$92,62 per barel, turun 0,5%. Keduanya sempat jatuh lebih dari 1% pada awal perdagangan. Reuters
Tekanan utama datang dari pulihnya pasokan Timur Tengah. Ekspor minyak kawasan tersebut mencapai rata-rata sekitar 18,3 juta barel per hari pada akhir September, bahkan sudah melewati tingkat sebelum perang pada beberapa hari. Arab Saudi menjadi salah satu pendorong utama kenaikan ekspor tersebut. Reuters
Selain itu, negara-negara G7 sepakat melepas 100 juta barel minyak mentah dan diesel dari cadangan darurat. Langkah ini membuat kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan suplai sedikit mereda dan menjadi faktor bearish untuk minyak. Reuters
Arab Saudi juga memberi tekanan tambahan setelah Saudi Aramco secara mengejutkan memangkas harga jual minyak untuk Asia pada pengiriman November ke level terendah enam tahun. Ini memperkuat persepsi bahwa pasokan ke pasar Asia sedang membaik. Reuters
Tapi minyak belum bisa dibilang bearish sepenuhnya. Risiko geopolitik masih sangat tinggi. Houthi mengklaim melakukan serangan rudal dan drone terhadap fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan Khurais, sementara serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz juga meningkat. Sedikitnya tujuh insiden terhadap kapal dilaporkan dalam sepekan terakhir. Reuters
Jadi gambaran market saat ini cukup menarik: supply recovery + pelepasan cadangan G7 = tekanan turun, sementara perang Iran, serangan Houthi, risiko Hormuz, dan ketatnya stok produk energi = penahan penurunan. Bahkan CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan pengisian kembali persediaan minyak global yang telah terkuras bisa memerlukan hingga dua tahun, sehingga fundamental suplai jangka menengah masih ketat.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id