
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas kembali mengalami tekanan setelah konflik Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz membuat harga energi tetap tinggi dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga ketat. Harga emas (XAU/USD) terbaru berada di kisaran US$4.151 per troy ounce pada Senin (28/9). Sementara itu, logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan paladium juga mengalami tekanan. Kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, serta penurunan imbal hasil Treasury menjadi faktor utama yang menekan daya tarik emas.
Tekanan terhadap emas meningkat karena pasar kembali memperkirakan risiko inflasi akibat kenaikan harga energi. Konflik AS-Iran yang memasuki bulan kedelapan belum menunjukkan perkembangan signifikan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi global. Kondisi tersebut membuat investor melihat peluang The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga tambahan semakin besar, terutama dengan pasar yang mengatakan peluang kenaikan suku bunga tambahan masih tinggi.
Pergerakan emas dalam beberapa pekan terakhir sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS. Kenaikan imbal hasil riil membuat biaya peluang memegang emas meningkat karena aset tersebut tidak memberikan ketidakseimbangan hasil. Selain itu, indeks dolar AS yang kembali menguat turut memberikan tekanan tambahan karena membuat emas berbasis dolar menjadi kurang menarik bagi investor global.
Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack menyebut kenaikan imbal hasil jangka panjang dipengaruhi oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, kekhawatiran terhadap utang pemerintah, serta ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyampaikan bahwa pembuat kebijakan perlu tetap terbuka terhadap perkembangan suku bunga ke depan.
Analisis Newsmaker:
Emas saat ini menghadapi kombinasi tekanan dari tiga faktor utama, yaitu kenaikan imbal hasil Treasury, penguatan dolar, dan risiko inflasi energi yang justru mendorong ekspektasi The Fed tetap agresif. Namun, arah berikutnya masih bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan data ekonomi AS. Jika tekanan inflasi mulai mereda dan ekspektasi kenaikan bunga berkurang, emas berpotensi mendapatkan kembali dukungan dari investor. (asd)