
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia kembali melemah dalam perdagangan yang berfluktuasi pada Selasa (20/10/2026), memperpanjang tekanan yang berpotensi membawa logam mulia mencatat penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Meskipun dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah, sentimen positif tersebut belum cukup untuk menopang harga emas di tengah pergerakan minyak mentah yang tidak stabil.
Pada pukul 15.31 waktu New York atau Rabu (21/10) pukul 02.31 WIB, harga emas spot turun 0,4% menjadi US$4.122,41 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas melemah tipis ke level US$4.141,01 per troy ounce. Sebelumnya, emas sempat mencatat penguatan ketika harga minyak berbalik turun. Namun, kenaikan tersebut perlahan menghilang setelah minyak memangkas kerugiannya dan kembali bergerak naik, sehingga memberikan tekanan baru terhadap logam mulia.
Pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah emas di tengah terbatasnya katalis pasar. Harga minyak sempat melonjak pada awal perdagangan setelah kontrak berjangka Brent ditutup mendekati level tertinggi dalam lima bulan pada sesi sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut berbalik arah menyusul laporan mengenai kemungkinan kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Qatar dan Pakistan dilaporkan menawarkan proposal kompromi yang berupaya mengakomodasi tuntutan kedua negara, sehingga memunculkan harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Di sisi lain, pelaku pasar logam mulia masih bersikap hati-hati menjelang pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve pada 27–28 Oktober mendatang. Fluktuasi harga energi menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi prospek inflasi AS dan arah suku bunga The Fed. Kenaikan minyak dapat memperkuat kekhawatiran inflasi, sementara penurunannya berpeluang meredakan tekanan harga dan membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Secara keseluruhan, pergerakan emas masih dibayangi ketidakpastian harga minyak, perkembangan diplomasi AS-Iran, serta ekspektasi kebijakan The Fed. Pelemahan dolar AS belum mampu memberikan dorongan yang cukup kuat bagi emas untuk mempertahankan penguatannya. Selama harga energi bergerak tidak stabil dan arah suku bunga belum mendapat kejelasan, emas berpotensi tetap mengalami volatilitas tinggi dalam jangka pendek.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id