
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (20/10/2026), seiring lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan inflasi Amerika Serikat (AS).
Harga emas spot turun 0,5% menjadi US$4.120,49 per troy ounce pada pukul 16.09 WIB, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,5% ke level US$4.139,10 per troy ounce. Pelemahan ini terjadi ketika investor semakin berhati-hati menjelang pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve pada 27–28 Oktober mendatang, yang diperkirakan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga AS hingga akhir tahun.
Tekanan terhadap emas semakin meningkat setelah harga minyak Brent bergerak mendekati level tertinggi dalam lima bulan terakhir akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi serta laporan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak global. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan biaya energi dan memperbesar tekanan inflasi. Direktur dan CEO ActivTrades, Ricardo Evangelista, menilai tekanan inflasi yang terus berlangsung akibat tingginya harga energi dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan kenaikan harga.
Pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi perhatian utama tertuju pada kemungkinan kenaikan suku bunga dalam pertemuan Desember. Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan pasar, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 90%. Ekspektasi tersebut menjadi tekanan bagi emas karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik instrumen investasi berbunga seperti obligasi pemerintah AS. Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi dapat mengurangi minat investor terhadap logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Selain menunggu keputusan The Fed, investor juga mencermati rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat pada pekan depan sebagai indikator utama inflasi yang menjadi acuan bank sentral. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan tekanan lanjutan terhadap emas. Sebaliknya, tanda-tanda meredanya inflasi dapat membuka peluang pemulihan harga logam mulia. Di pasar logam lainnya, perak menguat 0,2% menjadi US$57,19 per ounce, sedangkan platinum turun 0,1% ke US$1.639,45 dan paladium melemah 0,9% menjadi US$1.110,06 per ounce.
Kesimpulan
Harga emas masih berada dalam tekanan akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, yang dipicu kekhawatiran inflasi dari lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak menjadi dilema bagi emas, karena risiko geopolitik dapat meningkatkan permintaan aset safe haven, tetapi tekanan inflasi justru berpotensi membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Dalam jangka pendek, area US$4.100 menjadi level psikologis penting untuk diperhatikan. Jika harga menembus area tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut. Sebaliknya, meredanya kekhawatiran inflasi dan sinyal kebijakan The Fed yang lebih lunak dapat membuka peluang pemulihan emas menuju kisaran US$4.150–4.200 per troy ounce.
Sumber: newsmaker.id