
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Rabu (14/10), setelah mengalami penurunan selama dua sesi berturut-turut. Emas diperdagangkan di kisaran US$4.155 per troy ounce, menyusul pelemahan sebesar 0,8% dalam dua hari sebelumnya. Pergerakan ini terjadi setelah pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat memberikan sedikit kelegaan bagi pasar. Meskipun peluang kenaikan suku bunga masih terbuka, investor mulai melihat kemungkinan bahwa kebijakan pengetatan moneter tidak akan berlangsung terlalu lama.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyampaikan bahwa satu kali kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan sepanjang tahun ini. Namun, ia memperkirakan tidak ada kebutuhan untuk kembali menaikkan suku bunga pada 2027. Pernyataan tersebut membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap kebijakan The Fed yang terlalu ketat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yield turut mengalami penurunan setelah komentar tersebut, sehingga memberikan dukungan bagi emas. Pasalnya, ketika imbal hasil obligasi menurun, emas cenderung menjadi lebih menarik karena biaya peluang untuk menyimpan aset yang tidak memberikan bunga ikut berkurang.
Sementara itu, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar. Serangkaian serangan di kawasan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan mendorong harga minyak mentah Brent bergerak di atas US$106 per barel. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi, yang pada akhirnya dapat memperbesar tekanan inflasi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi The Fed karena inflasi yang tetap tinggi dapat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Perhatian investor kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Rabu. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk melihat apakah tekanan inflasi mulai mereda atau justru kembali meningkat. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober masih relatif kecil, tetapi kemungkinan kenaikan pada Desember mencapai sekitar 90%. Menjelang rilis data tersebut, emas spot tercatat melemah tipis 0,1% menjadi US$4.157,37 per troy ounce pada pukul 08.05 waktu Singapura, sementara indeks dolar Bloomberg bergerak stabil setelah sebelumnya turun 0,2%.
Ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh hasil inflasi AS dan respons pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Apabila CPI menunjukkan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga dapat berkurang sehingga dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi melemah, sekaligus membuka ruang penguatan emas. Sebaliknya, jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS berpeluang menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap logam mulia. Dengan kondisi tersebut, emas masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, sementara investor menunggu kepastian arah suku bunga dan perkembangan ketegangan geopolitik global.