
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin (12/10), dengan emas spot naik 0,1% ke sekitar US$4.199,72 per troy ons, sementara kontrak berjangka emas AS menguat 0,2% ke US$4.223,42. Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan sekitar 1,3% sepanjang pekan sebelumnya. Dolar AS juga sedikit melemah dengan indeks DXY berada di sekitar 102,17, memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan momentum positif.
Sentimen terhadap emas mendapat dukungan dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah kembali terjadi serangan di Timur Tengah. Bandara utama Riyadh, King Khalid International Airport, menjadi sasaran serangan kelompok Houthi pada Minggu, sehari setelah serangan sebelumnya menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan kembali mengganggu keamanan energi kawasan.
Di sisi lain, risiko pasokan energi sedikit diredam oleh klaim Presiden AS Donald Trump bahwa gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina telah berlaku segera. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga pasokan bahan bakar global setelah sebelumnya muncul kekhawatiran terhadap gangguan kilang dan infrastruktur energi Rusia. Harga Brent sendiri turun sekitar 1,2% pada perdagangan Senin, sehingga sebagian tekanan inflasi dari sisi energi mulai mereda.
Dari sisi fundamental, permintaan emas masih mendapatkan dukungan kuat dari investor dan bank sentral. Arus dana ke ETF berbasis emas disebut mencapai level tertinggi dalam empat tahun, sementara People's Bank of China menambah sekitar 740.000 ons emas ke cadangannya pada September dan memperpanjang pembelian menjadi 23 bulan berturut-turut. Namun, risiko kenaikan suku bunga tetap menjadi penghalang karena inflasi energi yang kembali meningkat dapat mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Analisis Newsmaker: Emas saat ini berada dalam fase tarik-menarik antara dukungan safe haven dan tekanan dari risiko suku bunga. Pelemahan dolar, pembelian bank sentral, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik memberikan fondasi positif bagi emas untuk bertahan di sekitar US$4.200. Namun, apabila eskalasi Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dan meningkatkan ekspektasi inflasi, The Fed berpotensi mempertahankan sikap hawkish yang dapat mengangkat yield dan membatasi kenaikan emas. Pergerakan dolar, yield Treasury, harga minyak, dan perkembangan geopolitik akan menjadi katalis utama bagi arah Gold berikutnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id