
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin (5/10) setelah mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Juni. Spot gold berada di sekitar US$4.151 per troy ounce saat berita ini ditulis, setelah turun sekitar 3,4% sepanjang pekan lalu. Pasar kini menimbang dampak pelemahan tenaga kerja AS terhadap arah kebijakan Federal Reserve.
Data Non-Farm Payrolls September menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah perkiraan pasar. Hasil tersebut membuat tekanan terhadap The Fed untuk segera menaikkan suku bunga kembali berkurang, karena pelemahan pasar tenaga kerja dapat menjadi alasan bagi bank sentral untuk lebih berhati-hati.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 20%, turun tajam dari sekitar 70% sepekan sebelumnya. Berkurangnya ekspektasi pengetatan menjadi faktor positif bagi emas karena suku bunga yang lebih rendah dapat mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil.
Namun, tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Harga Brent masih bertahan di atas US$100 per barel, sementara yield Treasury tenor panjang berada dekat level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Yield 10 tahun yang bertahan di sekitar 5,2% masih menjadi salah satu penghambat utama pemulihan emas.
Dolar AS juga tetap kuat setelah mencatat penguatan selama tiga pekan berturut-turut. Pada saat yang sama, pasar menantikan FOMC Minutes dari pertemuan September untuk mencari petunjuk apakah mayoritas pejabat Fed masih mendukung kenaikan bunga tambahan sebelum akhir tahun.
Emas mendapat dukungan dari melemahnya NFP dan menurunnya peluang kenaikan bunga Oktober, tetapi ruang rebound masih dibatasi oleh yield tinggi, dolar kuat, dan risiko inflasi energi. Jika FOMC Minutes menunjukkan sikap lebih dovish, emas berpotensi mendapat momentum pemulihan. Sebaliknya, penekanan pada inflasi dan kebutuhan pengetatan lanjutan dapat kembali menekan XAU/USD.