
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak menguat tipis pada perdagangan Senin (5/10) setelah mengalami tekanan tajam sepanjang pekan sebelumnya. Pelemahan kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat membantu meredakan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga, meski tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kenaikan harga minyak masih membatasi penguatan logam mulia.
Hingga pukul 05.53 ET atau 09.53 GMT, harga emas spot naik sekitar 0,4% menjadi US$4.158,60 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas menguat sekitar 0,6% ke level US$4.188,32 per troy ounce.
Pergerakan tersebut terjadi setelah emas mencatat penurunan mingguan terdalam sejak Juni. Sentimen terhadap emas mulai membaik setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada Jumat menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja melemah lebih dalam dari perkiraan.
Data Nonfarm Payrolls (NFP) AS menunjukkan penambahan hanya 29.000 pekerjaan pada September, jauh di bawah ekspektasi pasar. Lemahnya pertumbuhan lapangan kerja tersebut mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk segera kembali menaikkan biaya pinjaman dalam upayanya mengendalikan inflasi.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober hanya sekitar 20%. Angka tersebut turun drastis dibandingkan sekitar 70% pada pekan sebelumnya. Perubahan ekspektasi suku bunga ini menjadi salah satu faktor pendukung emas karena logam mulia cenderung lebih menarik ketika prospek kenaikan suku bunga mulai berkurang.
Meski demikian, ruang kenaikan emas masih menghadapi sejumlah hambatan. Imbal hasil Treasury AS masih berada di level tinggi, sementara kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat membuat The Fed tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama apabila inflasi kembali meningkat.
Sebelumnya, emas telah merosot lebih dari 6% sepanjang September, menjadi penurunan bulanan terdalam sejak Juni. Tekanan terutama muncul dari kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat mempertahankan inflasi pada level tinggi dan mendorong suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama. Ke depan, perhatian pasar akan tetap tertuju pada perkembangan data ekonomi AS, pergerakan yield Treasury, harga minyak, serta komentar pejabat Federal Reserve untuk menentukan arah emas berikutnya.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id