Dolar Berbalik Menguat, Ancaman Balasan Trump ke Iran Picu Risk-Off
Dolar AS menghapus pelemahan pada Selasa (9/6) dan sempat menyentuh level tertinggi sesi sekitar tengah hari New York setelah Presiden Donald Trump menyatakan AS “harus merespons” Iran terkait penembakan jatuh helikopter militer AS. Pergeseran headline itu mengubah mood pasar menjadi lebih defensif, membuat pelaku pasar kembali mencari aset aman meski pergerakan keseluruhan masih terbatas.
Kenaikan dolar terjadi bersamaan dengan pemangkasan penurunan pada imbal hasil Treasury dan harga minyak. Yield US 10-tahun turun tipis sekitar 2 bps ke area 4,53%, sementara WTI dan Brent sempat turun di bawah US$90/barel sebelum memangkas pelemahan. Saham AS juga tertekan, dengan S&P 500 sempat turun lebih dari 2% pada titik terburuk sesi.
Di pasar valuta, mata uang G-10 bergerak campuran. Euro dan pound relatif lebih kuat dibanding rekan-rekannya, sementara krone Norwegia dan Swedia melemah paling dalam seiring koreksi minyak. USD/CAD memperpanjang kenaikan hari kelima dan menyentuh area tertinggi sesi, sementara USD/JPY kembali menguat dan bertahan sepenuhnya di atas 160—menjaga isu risiko intervensi tetap hidup.
Fokus pasar berikutnya tetap data inflasi AS (CPI) yang rilis Rabu. Namun volatilitas semalam yang rendah menandakan pasar belum berani memasang posisi besar untuk “breakout” sebelum data keluar. Dengan likuiditas yang masih lebih tipis dari rata-rata, headline geopolitik seperti komentar Trump cenderung punya dampak lebih cepat terhadap dolar, yield, dan sentimen risiko.(arl)
Sumber: Newsmaker.id