
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas (XAU/USD) mempertahankan momentum penguatan menuju sesi Eropa pada Jumat (9/10), dengan harga bergerak di sekitar US$4.200 per troy ons dan mendekati level tertinggi dalam sepekan. Penguatan ini menjadi kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut setelah emas sebelumnya tertekan hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi katalis utama yang kembali menarik minat pembeli terhadap emas.
Dolar AS terus menjauh dari level tertinggi sejak April 2025 setelah yield Treasury mulai terkoreksi. Lelang obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun yang mendapat respons positif dari investor turut mendorong penurunan yield, sehingga memberikan ruang bagi emas untuk menguat. Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Amerika Serikat tidak akan melanjutkan serangan militer terhadap Iran sebelum pemilu sela pada 3 November membantu meredakan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik dan menahan harga minyak. Kondisi tersebut turut mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi berbasis energi.
Meski demikian, risiko geopolitik masih menjadi perhatian pasar. Ketegangan terkait program nuklir Iran belum sepenuhnya mereda setelah Wakil Presiden AS JD Vance meminta Iran melakukan pengurangan signifikan terhadap kapasitas pengayaan uraniumnya, sementara Kepala Badan Energi Atom Iran Mohammad Eslami menolak tuntutan tersebut. Konflik di Timur Tengah, termasuk meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dan koalisi pimpinan Arab Saudi, juga membuat premi risiko geopolitik tetap tertanam dalam harga emas.
Dari sisi kebijakan moneter, prospek emas masih menghadapi tantangan dari sikap hawkish The Fed. Pelaku pasar masih memperkirakan peluang lebih dari 80% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan emas apabila dolar kembali mendapatkan dukungan dari ekspektasi pengetatan kebijakan moneter.
Analisis Newsmaker: Rebound emas menuju US$4.200 saat ini lebih banyak didukung oleh pelemahan dolar dan yield Treasury, sementara risiko geopolitik memberikan tambahan permintaan sebagai aset safe haven. Namun, kenaikan masih menghadapi hambatan dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang tetap tinggi. Dalam jangka pendek, kemampuan emas mempertahankan area US$4.200 akan menjadi perhatian penting. Jika yield dan dolar terus melemah, ruang pemulihan emas dapat terbuka lebih lebar. Sebaliknya, penguatan kembali dolar dan yield akibat data ekonomi AS yang solid atau sinyal hawkish The Fed berpotensi membatasi rebound. Pasar selanjutnya akan mencermati data awal University of Michigan mengenai sentimen konsumen dan ekspektasi inflasi AS sebagai katalis berikutnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id